Pipitputih Sahabat Maya

Cerpen
Endang Sukendar


                                                                                          Facebook.com/TonySongArt

Aku sudah tiga tahun mengenalnya di internet. Ia teman chatting yang nyambung. Kini ia jadi pelarianku setelah dikecewakan teman lama yang sombong.



SEJAK beradu pandang pertama kali, kami sama-sama agak canggung. Aku merasa seperti pernah mengenal perempuan itu. Mata dan bibirnya mengingatkanku kepada gadis yang pernah kutemui, entah kapan dan di mana. Ia pun tampak seperti merasa pernah mengenalku, tapi mungkin juga lupa waktu dan tempatnya.

Gadis itu hanya menyebutkan nama kecilnya, Icha, ketika memperkenalkan diri. Jabatan-nya, asisten manajer PR alias public relation PT Biotafarma Alam Lestari, sebuah perusahaan farmasi yang sedang naik daun. Aku menemuinya sebagai wartawan dari sebuah stasiun televisi swasta. Aku sebenarnya bermaksud mewawancarai manajer PR perusahaan itu. Tapi, sang manajer mendadak dipanggil rapat oleh direktur utama. Ia lalu meminta asistennya melayani wartawan yang akan mewawancarainya hari itu. 
 
Icha menerima aku, Agus --kameramenku, dan Imelda, reporter sebuah majalah yang kebetulan juga mau meliput masalah yang sama, di ruang kerjanya. Ketika menerima kartu namaku dan membacanya, Icha terlihat seperti merenung sesaat, lalu melirikku dengan sudut matanya. Ketika tahu aku sedang menatapnya, ia tampak agak tersipu. Namun, perempuan cantik itu berusaha menyembunyikan kecanggungannya dengan sikapnya yang hangat dan renyah. 
 
Aduh mohon maaf, kartu nama saya ketinggalan di mobil,” kata Icha, seraya meminta seseorang mengambilnya.

Icha panjang lebar menjawab semua pertanyaan kami. Perusahaannya baru saja mem-produksi antibiotik anyar untuk penyakit malaria, dari sejenis tumbuhan yang berasal dari hutan Kalimantan. Antibiotik baru itu dilaporkan memiliki khasiat yang lebih mangkus dibandingkan dengan obat lama. Icha dengan runtut menjelaskan semua hal tentang obat baru itu. Alur bicaranya lancar, dan mudah dipahami. Ia mampu menjelaskan banyak hal hanya dengan menjawab satu pertanyaan saja. Sepanjang pembicaraannya, mungkin hanya aku yang menangkap kecanggungannya. Setiap menatap mataku, Icha seperti agak tersipu. Aku makin yakin kami pernah bertemu sebelumnya. Tapi, entah kapan dan di mana.

Mungkin untuk menghindari kecanggungan itu, Icha lebih banyak menatap Agus, dan Imelda. Pada saat ia tidak menatapku, aku justru punya kesempatan memandangi wajahnya. Dan, aku merasa begitu mudah menyerah untuk mengaguminya. Aku suka penampilan dan pembawaannya. Wajahnya hanya dipoles make up tipis. Ujung rambutnya yang lurus tampak lembut membelai bahunya. 

Kesan pertamanya begitu kuat. Ramah dan cerdas. Tapi rendah hati dan sabar. Jika lawan bicaranya menyela, ia rela berhenti bicara dan mendengarkan dengan sabar. Wawasannya luas, tapi hanya bicara seperlunya. Pembawaannya bersahaja dan dewasa, dengan setelan busana kerja yang menambah kesan anggun. Parfum lembut beraroma woody yang menguap dari tubuhnya kian menyempurnakan sosok feminin itu. 

Icha… kita pernah bertemu di mana, yah?” ingin sekali aku menanyakannya. Tapi aku tak mau terkesan sok akrab, dan tidak profesional. Apalagi, ia tampil sangat resmi sebagai juru bicara perusahaannya, dan berusaha menghindari hal-hal yang bersifat pribadi.

Satu jam kami mewawancarai Icha. Di akhir wawancara, Icha membagikan kartu namanya. “Saya hanya memberikan informasi, tapi sekali lagi, jangan dikutip sebagai statement saya ya,” katanya sambil tertawa renyah.

Akhirnya kami bersalaman pamit. Sekali lagi, aku melihat matanya seakan mengatakan sesuatu, seperti : "Kita pernah ketemu!". 

Pada kartu namanya, aku membaca nama lengkapnya: Risha Aura Pitaloka. Hm.. seperti pernah aku kenal. Tapi di mana?

Di dalam mobil menuju kantor, aku masih terus mengingat-ingat dengan mengilas balik masa-masa lalu. Tiba-tiba pikiranku hinggap ke suatu waktu. “Oh yah… baru ingat sekarang!” aku hampir terpekik. “Risha… aku yakin dia. Tak salah lagi.” Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum simpul.

Aku baru ingat, Risha adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dari sebuah universitas di Bandung, yang aku kenal lima tahun lalu. Kala itu, aku sedang menyusun skripsi tentang industri media cetak untuk tugas akhirku di fakultas ekonomi. Aku melakukan penelitian di sebuah kantor majalah berita di Jakarta. Di akhir penelitianku, Risha datang untuk melakukan kuliah lapangan di majalah itu. Waktu itu ia masih duduk di semester empat.

Kami cuma sehari saja berbagi waktu di kantor majalah itu. Tapi, sikapnya yang supel membuat kami akrab seketika. Ia bertanya banyak hal mengenai topik penelitianku. Risha yang aku kenal kala itu boleh dibilang masih kucel, dan lebih kurus. Aku masih ingat ketika ia tergopoh-gopoh tiba di kantor majalah itu setelah berputar-putar naik turun mikrolet mencari alamatnya. Ia mengatakan berangkat pagi buta dari Bandung dengan bis, dan baru tiba di tempat yang ditujunya lepas tengah hari. 

Risha..,” aku bergumam lagi, seraya menghela napas. Kini ia sudah berubah jauh.

Aku merogoh saku tas mengeluarkan handphone-ku. Ingin sekali meneleponnya. Tapi aku mengurungkannya karena takut mengganggu. Mungkin ia sedang rapat. Lagipula, aku yakin Icha sebenarnya tahu siapa aku. Perempuan biasanya punya daya ingat lebih kuat. Tapi, mungkin ia ingin betul-betul profesional dalam wawancara tadi. Entahlah. 

Aneh. Sepanjang perjalanan ke kantor, aku masih terus memikirkan gadis itu. Aku berharap ia menelpon atau kirim SMS. Berulangkali aku mengecek handphone-ku, berharap ada pesan yang nadanya tak kudengar. Tapi gadis itu sama sekali tak berniat mengontakku? Sombong sekali.


TIBA di kantor hampir senja. Kemacetan Jakarta menahan kami lebih dari satu jam untuk jarak yang cuma belasan kilometer. Aku langsung menuju ruang kerjaku di lantai tiga. Kunyalakan komputer, meski sebenarnya belum ada mood menulis naskah. Untuk mengusir masygul, aku iseng mengaktifkan Yahoo Massenger, YM, media chatting alias obrolan di internet.

Ternyata, sudah ada beberapa pesan masuk yang dikirim teman–teman chatting. Satu di antaranya dikirim si Pipitputih, teman curhat yang sudah tiga tahun jadi sahabat di dunia maya.

Meski jarang online, dia adalah teman chatting yang paling nyambung. Aku senang mengobrol dengan dia tentang apa saja.

Boy, apa kabar? Ada berita apa hari ini?” Pipitputih mengirim pesan itu pukul 17.00, sekitar dua puluh menit sebelum aku tiba di kantor. Ia terlihat masih online. Ia memang biasa chatting usai jam kantor, sambil menunggu jalan pulang tak macet lagi.

Gue lagi kesel,” aku langsung menjawab sapaannya. 
 
Aku ingin mengadu tentang Icha, teman lama yang baru kutemukan itu. Aku memang sering curhat tentang apa saja kepada Pipit. Dan ia biasa memberikan pendapatnya. Pipitputih mengaku berumur 22 tahun, tiga tahun lalu. Ia lebih muda tiga tahun dari aku. Tapi aku sering merasa ia lebih dewasa dalam menyikapi banyak hal.

Kenapa, Boy?” tanya Pipit.

Gue ketemu teman lama, tapi ia ngga mau kenal gue lagi,” jawabku, seperti anak kecil.

Ce apa co?” Dia bertanya, apakah teman lamaku itu cewek atau cowok?

Sialnya, ce..” kataku.

Seperti biasa, Pipit memintaku berpikir positif. “Coba aja kamu telepon, siapa tahu dia yang malah justru  menganggap kamu sombong,” katanya.

Males! Udah lah. Kamu apa kabar sama bf-nya?” Aku mengalihkan pembicaraan. Bf maksudnya boyfriend alias pacar. Pipit pernah curhat sedikit tentang pacarnya. Mereka sudah berpacaran cukup lama. Tapi masa depannya tidak jelas. Soalnya, mereka berbeda keyakinan.

It’s over!” katanya.

Putus? Bercanda kamu!”

Swear!” Ia lalu menjelaskan bahwa hubungan mereka sudah beku sejak tiga bulan terakhir. Keduanya lalu sepakat putus, karena keluarga mereka tak setuju perkawinan beda agama. “Kamu sendiri bagaimana?” Pipit balik bertanya. “Masih ngejar gadis Chinese itu?”

Haha.. ngga lah…. Dia udah pulang.” Aku sempat bercerita tentang temanku, seorang wartawati koran Hong Kong yang pernah bertugas di Jakarta. Dengan setengah bercanda, aku mengatakan suka orang Asia Timur, karena darah Konfusian-nya, yang konon membuat bagus ethos kerja mereka.

So, siapa yang kamu kejar sekarang?”

Teman lama yang sombong itu!” jawabku bercanda lagi.

He he he…, kenapa kamu suka dia?” Pipit bertanya, persis seperti ketika aku bercerita tentang wartawati Hong Kong itu.

Mmm… ya seperti biasa, dia cerdas, pinter, anggun, rendah hati, mandiri, dewasa… Cantik, dan lain-lain...,” jawabku asal. 

Good luck deh…” ujarnya. “Tapi jangan cepat menyerah ya...” Ia lalu menasehati lagi, agar aku ulet melakukan pendekatan. “Cewek tak gampang tertarik sama cowok, tidak seperti cowok sama cewek. Makanya, jangan egosentris dengan mengharapkan cewek yang ambil inisiatif, Boy…”

Aku tertawa. Tapi merenung juga. Selama ini aku mungkin termasuk yang kurang ulet. Begitulah paling tidak, teman-temanku mengkritik.
 
Keluargaku punya penilaian lain lagi. “Kamu terlalu pilih-pilih,” kata ibuku, mengkritik. Beliau sebenarnya berharap aku cepat-cepat menikahi anak gadis mitra bisnis ayah, setamat kuliah. 

Tapi aku tak mau diatur. Karena itu pula aku memilih berkarier sendiri menjadi wartawan televisi, bukan menerima tawaran ayah jadi manajer di perusahaannya. Aku sendiri menikmati profesiku, karena ternyata pekerjaan jurnalis sangat rekreatif, dan gaul. Jurnalis sangat well informed, dengan akses informasi yang lebih mudah.

Pit.., tiba-tiba saya ingin ketemu kamu...” Setelah agak lama terdiam, aku nyeletuk di layar chatting YM.

Kenapa harus ketemu?” jawab Pipit.

Ya.. siapa tahu kita berjodoh!” kataku asal-asalan. 
 
Pipit diam. Aku tahu ia tak akan mengomentari ucapan konyol itu. 
 
Pit, sebenarnya, kamu suka sama saya ngga sih?” tanyaku polos.

Maksud lo!?”

Aku yakin Pipit sudah tahu banyak tentang aku, karena aku sering bercerita mulai dari pendidikan, pekerjaan, bahkan sampai hal-hal kecil di keluarga. Dia sudah tahu nama lengkap, dan pekerjaanku. Sedangkan dia sendiri selalu minta dipanggil Pipit, tanpa menjelaskan jati dirinya. Belakangan ia hanya mengatakan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta sebagai karyawati biasa.
   
Pit besok kan hari libur, aku juga tak dapat jadwal masuk kantor. Kita ketemu yuk,” aku mencoba melempar tawaran. 
 
Respons Pipit datar saja, seperti tidak yakin dengan ajakanku. Tapi setelah aku menyatakan serius, ia mulai menanyakan tempat dan waktunya. 
 
Boleh deh, siapa tau aku bisa nyomblangin kamu sama temen lama itu,” kata Pipit melucu. Boleh juga idenya. Paling tidak, ia pasti punya nasihat bagus.

Lewat chatting, kami sepakat bertemu di sebuah mal di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, sekitar pukul sepuluh tigapuluh. Tadinya aku mau menelpon langsung, tapi dia bilang baterei handphone-nya habis, dan ia buru-buru mau pulang. “Nanti kirim-kiriman SMS saja,” katanya.

 

PAGI keesokan harinya, aku menghubungi handphone-nya. “Sorry aku baru selesai lari pagi nih,” kata Pipit sayup-sayup dengan napas yang masih ngos-ngosan, di antara suara kendaraan yang berisik. Ia mengatakan akan segera meluncur ke mal setelah sarapan, dan langsung menutup telponnya.

Setengah jam menjelang waktu yang disepakati aku sudah tiba di tempat parkir mal itu. Aku lalu mengirim pesan lewat SMS, mengatakan akan menunggu di sebuah kafe di lantai tiga. Aku menuliskan nama itu kafe dan lokasi persisnya.

Pukul sepuluh duapuluh aku sudah duduk di kafe. Selang beberapa menit, Pipit mengabari lewat SMS, ia sudah sampai di tempat parkir mal. Aku telpon, tapi tak diangkat. Ah, terus terang, agak degdegan juga menunggu Pipit. Seperti apa orang yang sudah tiga tahun jadi sahabat di dunia maya itu?

Aku dan Pipit berkenalan di YM ketika sama-sama masuk ruang Jakarta Global Chatting, suatu hari, tiga tahun lalu. Kami bertukar nomor handphone, dan aku pernah dua atau tiga kali meneleponnya. Belakangan kami cuma saling berkirim SMS. Tak pernah sekalipun bertemu langsung. Kami juga tak pernah menggunakan fasilitas webcam atau voice selama chatting, sehingga tak bisa saling melihat wajah atau mendengar suara masing-masing.

Aku sengaja duduk menghadap pintu masuk kafe, supaya Pipit bisa langsung melihatku. Pagi menjelang siang itu tamu kafe belum banyak. Hanya ada beberapa pria paruh baya yang sedang ngopi. Pengunjung mal hilir mudik di koridor sekitar sepuluh meter dari tempat dudukku. Sudah hampir sepuluh menit, Pipit belum nongol juga. Mataku terus mengamati koridor, mengintip perempuan yang hendak masuk kafe.

Aku baru saja hendak menelepon Pipit ketika jantungku berdebar seketika. 

Aku melihat perempuan itu, Icha, sang asisten manager PR Biotafarma, berjalan di koridor, ke arah kafe. “Hah… dia ada di sini!?” gumam hatiku, entah kenapa agak gugup. 

Belum lagi aku menguasai perasaan, Icha membuka pintu kaca kafe, dan langsung muncul di depanku.

Hey…!” ia menyapaku. Ternyata ia masih mengingatku.

Mm.. hey..” aku kian gugup menyambut uluran tangannya. Aku tak mengira ia sudah melihat aku ada di kafe ini.

Icha…. sama siapa?” aku bertanya sekenanya.

Aku sendirian... Kamu?” katanya sambil tetap berdiri di depanku. 
 
Aku sedang menunggu teman,” kataku sambil berusaha menenangkan perasaan.

Icha tersenyum, tapi tetap tak beranjak dari depanku. 
 
Mmm.., kamu belum simpen nomor hp-ku?” katanya, menatap mataku. “Coba aku telepon sekarang, dan kamu save nomorku, oke?” katanya lagi seraya memijit handphone-nya.

Handphone-ku langsung berdering, dan ketika kulihat… yang muncul adalah nomor Pipit. Aku terpana!

Icha tampak menahan tawa. Ia mengulurkan tangannya lagi, menjabat tanganku. “Pipitputih...,” katanya, seolah memperkenalkan diri. 
 
Aku terkesiap, hampir tak bisa bernapas. Ia pasti melihat wajahku memerah karena jantungku berdegup cepat sekali memompa darah hingga ke ubun-ubun.

Jadi… kamu….?” tanyaku antara percaya dan tidak.

Icha tertawa terkekeh.

Aku bengong mematung. Sungguh, ini mirip acara reality show di televisi. Beberapa detik lamanya mulutku tercekat, tak mampu berkata-kata. Sampai akhirnya Icha yang justru mempersilakanku duduk, seraya mengambil tempat duduknya.
  
Aku masih tak percaya. Pipitputih yang sudah tiga tahun aku kenal di dunia maya, ternyata Risha Aura Pitaloka yang baru kutemukan lagi kemarin, setelah lima tahun berselang. Bagaimana aku bisa mengenalinya, karena Pipitputih tak pernah menjelaskan jati dirinya, dan aku tak mungkin menghapal suaranya hanya dengan dua-tiga kali menelepon, tiga tahun lalu. Sebaliknya, ketika aku mewawancarainya tempo hari, pasti ia sudah tahu siapa aku.

Risha duduk di hadapanku. Kini matanya yang indah itu tak canggung lagi menatapku. Bibir tipisnya masih terus tersenyum simpul menertawakan kelucuan ini. Dan, aku merasa begitu ingin berteriak membuncahkan perasaan karena kejutan ini, antara merasa dikerjai dan bahagia sekali.  

Hari itu betul-betul milikku dan kami langsung pesta tenderloin steak, untuk merayakan pertemuan kami bertiga: saya, Pipit, dan Icha***

Pangkalan Jati, Jakarta Timur, 6 Desember 2006


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana menulis E dan EU dalam Bahasa Sunda?

Menangkal Hoax di Tahun Politik