Jika Tak Bijak, Pemupukan Malah Menghilangkan Kesuburan
Sudah
dua musim dalam setahun ini Sunarja mengalami puso. Padi di sawahnya
mandul alias tidak berbuah seperti yang diharapkan. Petani kecil
warga Desa Bendungan, Kecamatan Pagaden Barat, Subang, Jawa Barat itu
hanya bisa meratap. Modal bertaninya yang menghabiskan sekitar Rp 10
juta selama dua kali masa penanaman, tidak kembali. Itu belum
terhitung kerugian tenaga dan waktu. Padahal sebagian modal bertani
itu ia dapatkan dari pinjaman.
"Kunaon
nya pare teh hapa wae, kawas ku hama tapi teu katingal hamana..,”
gumam pria 55 tahun, ayah dua anak dan kakek dua cucu itu. Ia heran
padinya tidak tumbuh subur, tampak seperti terserang hama sehingga
bulir buahnya tidak berisi, bahkan ada yang tidak berbuah sama
sekali. Padahal ia tidak melihat hamanya.
Sunarja
tidak sendirian. Ribuan petani di kecamatannya juga mengalami nasib
yang sama. Panen padinya tidak memuaskan. Gagal panen bahkan dialami
oleh para petani di kecamatan-kecamatan lainnya di Subang -kabupaten
yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi di Jawa Barat.
Seperti
diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Subang, H. Jaja
Rohadamadja, kepada para wartawan medio Agustus lalu, sebanyak lebih
dari 15.000 hektare tanaman padi di wilayah Subang terancam puso pada
musim panen kedua, tahun ini. Menurut Jaja, penyebabnya adalah hama
dan penyakit, antara lain, terkena penyakit kerdil.
Tapi
para petani seperti Sunarja hanya bisa mengeluh tanpa mengetahui
pasti penyebabnya. Langkah yang bisa mereka lakukan begitu melihat
padinya tetap kerdil, adalah langsung melakukan pemupukan lagi,
melebihi porsi yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Mereka juga
mencoba melakukan penyemprotan obat hama (pestisida) padahal mereka
tak tahu jenis hama yang menyerangnya.
Langkah
ini justru dianggap petaka oleh para pakar pertanian. Sebab, pupuk
yang diberikan para petani adalah pupuk anorganik alias pupuk kimia
-yang selama ini memang terus menerus digunakan. Pemberian pupuk
kimia secara berlebihan inilah yang diduga justru telah menyebabkan
tanah tercemar, sehingga menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan
panen. Penggunaan pestisida secara serampangan malah lebih berbahaya
lagi karena langsung meracuni tanah, dan merusak ekosistem sawah
-yang sebenarnya bisa mengendalikan hama dan penyakit secara alami.
Tanah
Pertanian Sudah Kritis
Guru
Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin
mengungkapkan bahwa tanah pertanian di Indonesia sudah sangat kritis.
“Apalagi di Pulau Jawa tanah pertanian diperkosa oleh pupuk kimia.
Sehingga tanah tidak bisa mengikat unsur organik di tanah,” ujarnya
dalam diskusi umum yang digelar Forum Diskusi Ekonomi Politik, di
Jakarta, akhir Mei lalu.
Pemakaian
pupuk kimia cenderung tak terkontrol sejak bergulirnya Revolusi Hijau
pada tahun 1970-an untuk mendongkrak produksi pertanian. Para petani
pun semakin tergantung pada pupuk kimia, karena tanpa pemupukan,
tanaman padinya dianggap tidak berproduksi maksimal. Namun, kini
pemakaian pupuk anorganik yang terus menerus itu telah memberi dampak
buruk.
Situs
bertani.com
memaparkan bahwa pupuk kimia yang digunakan dalam jangka panjang
telah menyebabkan tanah kehilangan kesuburan alaminya, dan malah
menjadi tandus. Pupuk kimia yang berlebihan terbukti berpengaruh
buruk pada keseimbangan zat makanan tanaman di dalam tanah. Unsur
zat hara tanah menjadi terikat oleh molekul-molekul kimia sehingga
tak lagi membentuk lapisan humus, yang semestinya menjadi pupuk
alami. Selain itu, pupuk kimia dan pestisida juga mengakibatkan
matinya mikroorganisme tanah yang seharusnya berperan dalam
pembusukan bahan-bahan organik. Akibatnya, porositas tanah menurun
dan teksturnya mengeras, sehingga susah ditembus akar tanaman.
Seiring
dengan munculnya ancaman krisis pangan dan bergulirnya program
ketahanan pangan, kini muncul isu-isu kesehatan pangan, dan gerakan
bertani berkelanjutan yang ramah lingkungan. Persoalan pangan memang
bukan hanya urusan memenuhi kebutuhan makanan untuk satu-dua
generasi, melainkan bagaimana menyiapkan pangan yang sehat untuk
jangka panjang tanpa merusak lingkungan.
Diseminasi
Hasil Riset LIPI
Berbagai
upaya memasyarakatkan sistem pertanian berkelanjutan sudah dilakukan
berbagai pihak. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai
sebuah lembaga riset, pun ikut mengambil peran. LIPI telah mencoba
menyosialisasikan cara bertani yang ramah lingkungan kepada
masyarakat. Sosialisasi ini dilakukan LIPI dalam kegiatan diseminasi
atau penyebarluasan hasil-hasil risetnya ke sejumlah daerah.
Pada
pertengahan September 2017 lalu, misalnya, LIPI melakukan diseminasi
hasil riset, termasuk cara bertani berkelanjutan, di 50 desa di
Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebulan
sebelumnya, LIPI juga melakukan kegiatan yang sama di beberapa desa
di Samarinda, dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sebelumnya,
LIPI menggelar sosialisasi penggunaan pupuk organik hayati di
beberapa desa di Jawa, seperti di Kabupaten Jember, dan Ngawi di Jawa
Timur.
Pelaksana
Tugas Kepala LIPI, Prof. Bambang Subiyanto, mengungkapkan bahwa
melalui kegiatan ini, LIPI ingin hasil-hasil penelitiannya bisa
dimanfaatkan masyarakat hingga ke daerah-daerah. “Kami ingin
mengenalkan hasil penelitian kami agar bisa digunakan para petani.
Misalnya, ada pupuk organik hayati dan teknologi pembuatannya, teknik
budidaya tanaman, serta lainnya,” kata Bambang pada acara
diseminasi hasil riset di Kelurahan Tanah Merah, Samarinda Utara,
Kalimantan Timur, 25 Agustus 2017.
Masyarakat
menyambut baik kegiatan LIPI itu. Lurah Tanah Merah, Dimas Kamaswara,
berharap hasil riset LIPI bisa memberi solusi bagi masalah hasil
pertanian di daerahnya yang terus turun dari tahun ke tahun. “Kami
harapkan LIPI mengajinya dari masalah air, tanah, dan lainnya. Lalu,
diberikan solusi agar hasil pertanian naik lagi,” katanya seperti
dikutip situs lipi.go.id.
Pupuk
Organik Hayati
Dalam
kegiatan diseminasi hasil riset di Jember, Jawa Timur, LIPI
memperkenalkan penggunaan pupuk organik hayati dan proses
pembuatannya. Pupuk ini dibuat selain untuk menumbuhkan mikroba
tanah, juga untuk membantu efektivitas penggunaan pupuk kimia yang
sudah terlanjur banyak dilakukan masyarakat, sekaligus mencegah
dampak buruknya terhadap tanah. Bambang Subiyanto menjelaskan, hasil
percobaan menunjukkan penggunaan pupuk organik hayati ini bisa
meningkatkan produksi padi per hektar dari 7 - 8 ton menjadi 12 ton.
Pupuk
organik hayati ini dibuat Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan
teknologi “Beyonic”. Seperti dilaporkan situs
risetpro.ristekdikti.go.id,
formula pupuk ini berisi kombinasi mikroba yang dapat menyediakan
fosfor, nitrogen dan hormon, menetralkan polutan tanah,
mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, dan membantu menormalkan proses
siklus hara dalam tanah. Menurut Bambang Subiyanto, mikroba yang
digunakan adalah mikroba lokal yang aman. Pupuk ini digunakan dengan
cara mencampurnya dengan pupuk kimia, dalam komposisi yang seimbang.
Dengan
pengenalan cara bertani yang ramah lingkungan ini, para petani
dididik cara bertani yang cerdas. Para petani, seperti Sunarja di
Subang, sudah waktunya menyadari bahwa mereka tak seharusnya hanya
menjalankan perintah saja dalam kegiatan-kegiatan pertanian, namun
harus sudah mulai memahami proses yang dikerjakannya. Dengan begitu
mereka akan belajar kearifan dalam mengelola alam, mengidentifikasi
setiap persoalan dan mencari solusinya secara mandiri.
Mereka
harus paham bahwa jor-joran mengeksploitasi alam tanpa kearifan,
hanya akan membuat alam makin tidak bersahabat, dan pada akhirnya
berhenti memberikan manfaat seperti yang diharapkan. ***
Jakarta, 31 Oktober 2017
Endang
Sukendar
esukendar@gmail.com


Komentar
Posting Komentar