LINGKUNGAN
Ilustrasi (Foto : anneahira.com)
Hari
Air Dunia merupakan momentum untuk merenungi pengelolaan air.
Bagaimana memanfaatkan sumber air bersih secara arif, dan bagaimana
pula menangani limbah hasil penggunaan air?
Air.
Seperti api, ia punya ungkapan yang sama: “Kecil menjadi berkah,
besar menjadi musibah.” Maknanya adalah: manusia hanya
membutuhkannya dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan.
Tuhan
sudah mewariskan air dalam jumlah yang konstan di bumi ini hingga
akhir zaman. Ia hanya berubah wujud sekali-kali. Kadang berupa uap
yang melayang di udara, berhimpun dalam wujud gumpalan awan di
atmosfir, lalu turun sebagai benda cair, menjadi air yang dikenal
manusia sehari-hari. Kemudian, sebagian terserap ke dalam badan tanah
dan menjadi berkah tersendiri di musim kemarau yang kering, sebagai
mata air. Di belahan bumi lain, air juga bisa berubah menjadi benda
padat dalam wujud es, sebelum mencair kembali.
Siklus
itu seperti sengaja diciptakan supaya air --yang tersimpan dalam
reservoir raksasa bernama laut, tersebar merata ke seluruh permukaan
bumi dan bisa dimanfaatkan segenap penghuninya, baik tumbuhan maupun
hewan, termasuk manusia. Selama siklus ini berjalan normal: laut
memberikan uap airnya, kemudian hujan turun dengan intensitas yang
cukup, sungai mengalir tenang dengan airnya yang jernih, sumur-sumur
tetap berair di musim kering, dan tetanaman tumbuh subur di atas
tanah yang gembur dengan kecukupan air yang terjamin, maka air pun
hadir sebagai berkah.
Tapi
apa yang terjadi pada waktu yang lain? Air datang sebagai banjir
bandang yang mendatangkan bencana. Sungai-sungai meluap, bendungan
jebol, lahan pertanian rusak, bahkan banyak manusia menjadi korban
tenggelam. Dan di waktu yang berbeda terjadi sebaliknya: hujan lama
menghilang entah ke mana, mata air kering, tanah-tanah pertanian
kerontang, tanaman mati, manusia kekurangan air. Semuanya tentulah
tidak terjadi begitu saja, tapi mutlak ada variabel yang mempengaruhi
siklus ideal tadi. Di luar kekuasaan Tuhan, manusia, sebagai penguasa
bumi, pastilah menjadi faktor yang menentukan semua kondisi ini.
Bagaimana
Mengelola Air Baku?
Air
(semestinya) kembali menjadi buah pikiran atau bahan renungan seluruh
penghuni bumi dalam momentum Hari Air Dunia (World Water Day) pada 22
Maret 2017 ini. Hari Air Dunia merupakan kegiatan tahunan Badan
Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ditujukan untuk
menggugah kepedulian warga dunia akan pentingnya air bagi kehidupan,
seraya mengajak bijak memperlakukan air melalui pengelolaan yang
berkelanjutan.
Mengapa
harus peduli air? Pakar pengkajian masalah air, Dr. Ir. Firdaus Ali,
M.Sc, mengatakan bahwa ketersediaan air bersih dan layak minum
menjadi masalah yang makin serius dihadapi dunia, termasuk Indonesia.
“Indonesia sudah mengalami krisis air dalam 10-20 tahun terakhir
ini,” kata Firdaus. Selain karena masalah alam, penyebabnya adalah
karena sebaran penduduk yang tidak merata yang menyebabkan
pengelolaan air baku menjadi makin kompleks.
“Pulau
Jawa yang luasnya hanya 6,8% dari luas daratan Indonesia dihuni oleh
55% penduduk Indonesia, dengan ketersediaan air hanya 4,5% dari
ketersediaan air di seluruh Indonesia,” ujar pendiri dan pimpinan
Indonesia Water Institut, lembaga pengkaji masalah air, itu. Kondisi
ini makin diperburuk oleh rusaknya lingkungan akibat alih fungsi
lahan yang makin marak sebagai imbas dari makin padatnya penduduk.
Dampaknya
adalah, ground
water
atau air tanah makin berkurang karena menyempitnya lahan bervegetasi,
dan run
off
atau air permukaan tanah yang hanyut, makin meningkat. “Reservoir
air berupa bendungan-bendungan yang telah dibangun tidak mampu
menampung air untuk persediaan, sehingga air hujan yang turun
sebagian besar hanyut ke laut, terbuang percuma,” kata Firdaus.
Saat
ini Indonesia hanya memiliki 284 bendungan yang cuma mampu menampung
12 milyar m3 air, sehingga hanya sanggup menyediakan 58 m3 air
perkapita penduduk per tahun. Padahal, PBB menetapkan bahwa untuk
mencapai ketahanan air, suatu negara harus mampu menyediakan 1.700 m3
air per kapita per tahun. Jika tidak, negara itu masuk kategori
mengalami krisis air.
Rusaknya
lingkungan juga menyebabkan daerah tangkapan air dan daerah aliran
sungai tidak lagi mampu menyimpan air sebagai sumber mata air sungai.
Air hujan yang jatuh sebagian besar langsung hanyut ke sungai dan
meluap di hilir sebagai air bah. Apalagi, intensitas hujan sering
tidak menentu. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),
yang juga mantan Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Basuki
Hadimuljono, mengungkapkan bahwa dalam siklus lima tahunan,
intensitas hujan tercatat semakin tinggi, dengan kenaikan sekitar
22%. Artinya, dalam durasi hujan yang sama, jumlah air yang turun
lebih banyak, dibandingkan dengan siklus sebelumnya.
Kondisi
ini merupakan imbas dari perubahan iklim sebagai dampak dari
pemanasan global. Pemanasan global terjadi akibat meningkatnya
gas-gas polutan di atmosfir yang mengakibatkan terjadinya efek rumah
kaca di permukaan bumi. Perubahan iklim menyebabkan tidak menentunya
pola iklim antara musim hujan dan musim kering, yang terasa di daerah
iklim tropis dengan terjadinya musim hujan atau musim kemarau yang
berkepanjangan. Pada musim hujan terjadi banjir di mana-mana,
sebaliknya pada musim kemarau terjadi kekeringan di berbagai tempat.
Ketersediaan
air bersih kini makin menjadi persoalan terutama di kota-kota besar
seperti Jakarta. Firdaus
Ali mengatakan bahwa kebutuhan air bersih penduduk Jakarta mencapai
240 liter per kapita per hari. Namun, yang terlayani baru 48%
penduduk melalui jaringan perpipaan. Karena itu, sebagian dari mereka
masih tergantung pada air tanah yang kualitasnya sudah jauh menurun.
Bahkan banyak pusat-pusat niaga, hotel, perkantoran yang terpaksa
mengambil air tanah dalam (deep
groundwater).
“Padahal, air tanah dalam itu dihasilkan oleh siklus yang sangat
panjang, bisa puluhan bahkan seratusan tahun,” kata Firdaus.
Artinya, bagian tanah dalam yang airnya habis karena disedot itu,
baru akan terisi air lagi puluhan tahun ke depan. Berbeda dengan
siklus air tanah dangkal yang akan segera terisi air lagi dalam
waktu yang singkat.
Akibatnya,
air tanah Jakarta makin berkurang yang menyebabkan turunnya kekuatan
tanah dalam menopang beban. Tak heran jika permukaan Jakarta makin
terus amblas di banyak tempat. Dengan turunnya permukaan tanah, maka
permukaan air laut pun makin naik. Apalagi, pemanasan global juga
menyebabkan naiknya permukaan laut akibat mencairnya salju-salju
abadi di permukaan gunung dan beberapa bagian gunung es di kedua
kutub bumi. Jika tak ada penanganan yang tepat, Firdaus Ali
memprediksi pada tahun 2050, permukaan laut di Teluk Jakarta akan
naik setinggi 2,5 meter dari permukaan tanah Jakarta.
Dengan
kondisi itu, maka sungai-sungai yang mengalir melintasi Jakarta,
seperti Sungai Ciliwung, tak akan bisa lagi mengalir ke laut.
Akibatnya bisa dibayangkan, Jakarta akan tenggelam ditelan air bukan
hanya oleh banjir kiriman dari hulu melainkan juga kiriman air laut
dari hilir. Apalagi dengan semakin meningkatnya debit air sungai di
musim hujan akibat daya serap tanah di hulu yang menurun drastis, dan
limpasan air permukaan tanah (run
off)
yang terus meningkat.
Pengelolaan
Limbah
Persoalan
pengelolaan air bukan hanya menyangkut penyediaan air bersih, dan
konservasi sumbernya, melainkan juga penanganan limbahnya.
Pengelolaan air limbah menjadi perhatian PBB karena air limbah bukan
hanya mencemari sumber air lain yang belum termanfaatkan, tapi juga
sebenarnya bisa diolah untuk digunakan kembali. Ini adalah upaya
penyediaan air bersih yang efisien, sebagai bagian dari kebijakan
pengelolaan air yang berkelanjutan. Itulah sebabnya, PBB menetapkan
“Air dan Air Limbah” sebagai tema Hari Air Dunia 2017.
Firdaus
Ali mengatakan bahwa tingkat pengelolaan air limbah di Indonesia,
terutama di kota-kota besar masih sangat buruk. Menteri PUPR, Basuki
Hadimuljono, bahkan menyebut pantai-pantai kota besar Indonesia
termasuk pantai paling jorok di dunia. Pantai Jakarta misalnya,
ibukota negara yang notabene menjadi etalase Indonesia. Jakarta yang
luasnya 662 km2, berpenduduk 12,5 juta jiwa. Jakarta adalah satu di
antara kota-kota terpadat Asia. Tiap hari, penduduk Jakarta
mengonsumsi sekitar 1,5 juta m3 air bersih. Sebanyak 90% dari jumlah
itu menjadi air bekas atau air limbah. Namun, dari seluruh air
limbah itu yang diolah baru 3,8%. Sisanya terbuang ke laut. Tak heran
jika perairan pantai Jakarta terlihat kotor, bahkan pernah
menyebabkan kematian massal ikan-ikan dan biota laut lainnya.
Ini
hanya gambaran persoalan air di Jakarta, yang menurut Firdaus Ali,
menjadi barometer pengelolaan air di Indonesia. “Bagaimana kita
akan bisa menangani persoalan Indonesia, kalau persoalan Jakarta
tidak bisa ditangani,” katanya. Indonesia Water Institute merupakan
salah satu lembaga yang melakukan kajian masalah air Jakarta yang
hasilnya kemudian disampaikan kepada Pemerintah DKI Jakarta, dan juga
Kementerian PUPR, karena sejak dua tahun lalu Firdaus juga menjabat
sebagai Staf Ahli Menteri PUPR. Firdaus bersyukur, persoalan berat di
Jakarta ini sudah mulai ditangani dengan baik.
Menteri
PUPRI, Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa di Jakarta akan dibangun
15 wilayah (cluster)
pengelolaan limbah lengkap dengan fasilitasnya yang bertekonologi
tinggi. “Saat ini sudah ada 5 cluster
yang sudah mulai dibangun,” kata Basuki. Jika semua cluster
pengolah limbah itu sudah beroperasi, maka seluruh air limbah Jakarta
yang sebagian besar dihasilkan rumah tangga akan bisa diolah sebelum
dialirkan ke laut, Teluk Jakarta.
Pemerintah
Jakarta juga berusaha mengantisipasi persoalan berat ini dengan
melakukan reklamasi dan membangun tanggul laut raksasa atau giant
sea wall.
Tanggul laut yang menjadi bagian dari Indonesia National Capital
Integrated Coastal Development (NCICD) atau Pembangunan Terpadu
Pesisir Ibu kota Negara itu, dibangun untuk mengimbangi penurunan
tanah Jakarta. Tanggul laut juga diharapkan dapat mengatasi ancaman
bajir, karena air di dalam tanggul kelak akan dipompa ke luar,
sehingga permukaannya tetap lebih rendah dari permukaan tanah
Jakarta.
Di
tingkat nasional, Presiden Joko “Jokowi” Widodo juga telah
memerintahkan membangun 49 bendungan baru dan merenovasi 16 bendungan
lama. Tujuannya, selain untuk menyediakan sumber air bersih juga
untuk mengatasi banjir. Selain membangun bendungan, Jokowi juga telah
memerintahkan membangun embung atau waduk kecil di desa-desa.
Tujuannya untuk keseimbangan neraca air, antara ketersediaan dan
kebutuhan air. Jumlah air di bumi ini tetap, tapi bagian yang
termanfaatkan bisa ditambah dengan meningkatkan kapasitas
penampungnya, supaya air yang turun dari langit bisa disimpan sebagai
cadangan di musim kemarau.
Semuanya
untuk ketahanan air. Ketahanan air sangat menentukan ketahanan
pangan, karena lebih dari 75% dari ketersediaan air dimanfaatkan
untuk memproduksi pangan melalui kegiatan pertanian. Ketahanan pangan
juga akan mendukung ketahanan energi, karena pangan sangat
berhubungan dengan energi yang juga sangat vital bagi sebuah negara.
Walhasil, ketahanan air akan menentukan ketahanan nasional.***
Endang Sukendar
esukendar@gmail.com
Sumber: Majalah GATRA 23-29 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar