Menjaga Ketahanan Energi dan Memeratakannya untuk Keadilan
Warga
Desa Tanah Hitam,
Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, bak
mendapat berkah. Dengan riang, mereka
berduyun-duyun menyaksikan peresmian SPBU
(Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum) di desa
mereka
pada 15 Oktober 2017 lalu.
Kecamatan
Paloh adalah salah satu potret kawasan 3T (Terdepan, Terluar dan
Tertinggal) yang warganya sudah lama berharap bisa mendapatkan BBM
(Bahan
Bakar
Minyak)
dengan harga wajar. Maklum, selama ini mereka terpaksa membelinya
dengan harga jauh lebih mahal dari harga normal, karena pasokan BBM
ke daerah terpencil di dekat perbatasan dengan Malaysia itu memang
langka.
Kini
mereka sudah bisa membeli BBM dengan harga normal, seperti yang
dijual di wilayah lain Indonesia yang tidak termasuk kategori kawasan
3T. SPBU Tanah
Hitam
menyediakan BBM jenis Solar
dengan harga Rp 5.150 per liter, Premium
Rp 6.450 per
liter,
dan Pertalite
Rp 7.700 per liter. Untuk menyuplai SPBU ini, Pertamina mengirim BBM
dari Terminal BBM Pontianak yang berjarak sekitar 250
km dengan medan yang cukup berat sehingga perlu waktu tempuh 8 sampai
10 jam.
SPBU
Tanah Hitam, Paloh, diresmikan oleh M. Ibnu Fajar dari Komite BPH
Migas (Badan
Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi), didampingi Direktur Pembinaan
Usaha Hilir Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Harya Adityawarman, General Manager Marketing Operation Region (MOR)
VI PT Pertamina (Persero) Yanuar Budi Hartanto, dan Bupati Sambas,
Atbah Romin Suhaili.
Bupati
Atbah Romin menyampaikan rasa syukur atas pembangunan SPBU di Paloh.
Ia mengungkapkan,
sebelumnya warga Kecamatan Paloh membeli BBM jenis Premium
secara eceran dengan harga mahal,
yakni Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per liter. "Mewakili
masyarakat, saya mengucapkan terimakasih kepada Pertamina yang telah
mewujudkan keadilan di bidang energi bagi masyarakat,” kata Atbah.
General
Manager MOR VI PT Pertamina (Persero), Yanuar Budi Hartanto,
menegaskan bahwa peresmian SPBU di Paloh ini memang merupakan simbol
komitmen Pertamina mewujudkan pemerataan dan keadilan di bidang
energi bagi seluruh rakyat Indonesia. "Dengan
komitmen yang kuat
itu, Pertamina
berupaya menaklukan berbagai tantangan yang dihadapi. Salah satu
tantangannya adalah infrastruktur, karena mobil Pertamina harus
melewati medan jalan yang berat untuk mencapai kawasan terpencil
seperti Paloh," tutur Yanuar.
Titik
ke-26 BBM Satu Harga
SPBU
di Desa Tanah Hitam, Paloh, Sambas, adalah titik ke-26 lembaga
penyalur BBM yang dibangun Pertamina dalam Program BBM Satu Harga.
Sebelumnya, pada awal Oktober
lalu,
Pertamina juga meresmikan SPBU di Desa Latu, Kecamatan Amalatu,
Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Peresmian SPBU di sana
juga
disambut hangat masyarakat.
Mereka senang karena masa-masa BBM mahal telah berakhir.
Arief
Ramutulur, warga Dusun Wailey, Desa
Latu, mengatakan
bahwa ia merasa seperti mimpi menyaksikan SPBU dibangun di
kampungnya. Sebab ia hampir tak membayangkan akan ada pompa bensin
dalam waktu secepat ini,
di kampungnya yang terpencil.
"Alhamdulillah, sekarang kami tidak sulit lagi
mencari
BBM. Tidak seperti sebelumnya. Sekarang kami merasa diperhatikan oleh
pemerintah," kata Arief Ramutulur seperti dikutip sejumlah media
lokal.
Arief
menuturkan, warga Amalatu
sebelumnya sangat susah mencari
bensin dan solar. SPBU terdekat berjarak sekitar 37 km, karena
adanya di kecamatan lain. Kami
terpaksa membeli bensin premium lewat pengecer dengan harga Rp 15.000
bahkan Rp 20.000 per liter,"
kata Arief.
Kini, Arief dan warga lainnya
menyaksikan sendiri sejarah yang baru terukir, dengan berdirinya SPBU
di kampung mereka,
yang menjual BBM dengan harga
wajar.
Vice
President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Adiatma
Sardjito,
mengatakan
bahwa Pertamina
sedang terus menyiapkan pembangunan lembaga-lembaga penyalur BBM
lainnya dalam
Program BBM Satu Harga. “Targetnya, sampai akhir 2017, kita
akan membangun 54 lembaga penyalur BBM di seluruh Wilayah 3T yang
tersebar di berbagai provinsi baik di wilayah barat, tengah, maupun
timur Indonesia,” katanya.
Program
BBM Satu Harga dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo,
Oktober tahun lalu.
Presiden
merasa prihatin
karena
mahalnya harga BBM di wilayah yang dikategorikan 3T, terutama di
Indonesia Bagian Timur. Karena itulah, daerah 3T menjadi fokus
Pemerintah dalam mengimplementasikan program ini.
Kementerian
ESDM kemudian menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 36
Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM
Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional.
Lewat
Permen itu, pemerintah menugaskan Pertamina merealisasikan
penyeragaman harga
BBM di seluruh Indonesia sejak 2017 hingga 2019, dengan target bisa
membangun 150 lembaga penyalur BBM.
Kini,
program
BBM
Satu
Harga
sudah bisa dinikmati di beberapa daerah 3T seperti di Papua dan Papua
Barat, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan
lain-lain. Kebijakan BBM Satu
Harga
diharapkan bisa membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat hingga ke
pelosok terpencil.
Penopang
Ketahanan
Energi
Program
BBM Satu Harga merupakan salah satu tugas penting yang diemban
Pertamina, sebagai upaya mendorong pemerataan dan keadilan dalam
pemanfaatan energi bagi seluruh rakyat. Dalam
konteks ini, Pertamina
juga mengemban tugas sebagai tulang punggung ketahanan energi, untuk
melayani kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan.
Saat ini, Pertamina menyalurkan sekitar 85% energi nasional (BBM).
Bahkan, untuk PSO (Public
Service
Obligation)
Pertamina memasok kira-kira 98% dari total kuota yang disediakan
pemerintah.
Direktur
Utama PT Pertamina (Persero), Elia Massa Manik, menegaskan
bahwa Pertamina sedang menyiapkan strategi jangka
panjang dalam upaya
menjalankan perannya menjaga
ketahanan energi nasional. Indonesia memang sangat
serius dengan program
ketahanan energi,
karena rentannya
kondisi
energi nasional saat ini. Cadangan minyak bumi Indonesia kini tinggal
3,6 milyar barel, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 300 juta
barel per tahun, dan terus meningkat.
Data
Outlook Energi Indonesia 2016 yang dikeluarkan Dewan Energi Nasional
menunjukkan sejak 2010-2014, laju penemuan cadangan dibandingkan
dengan produksi atau Reserve Replacement Ratio sekitar 50%. Artinya
Indonesia lebih banyak memproduksi daripada menemukan cadangan
minyak.
Katerbatasan
cadangan minyak
dan gas
bumi
merupakan
tantangan terbesar bagi Pertamina dalam menjalankan bisnis energi
yang berkelanjutan,
sekaligus sebagai penopang ketahanan energi nasional.
Ketahanan
energi Indonesia diamanatkan dalam Rencana Umum Energi Nasional
(RUEN) yang ditetapkan Maret 2017. RUEN merekomendasikan badan usaha
migas milik negara yang mengusahakan blok migas di luar negeri untuk
membawa minyak mentahnya ke dalam negeri.
Bagi Pertamina, RUEN memberi pesan bahwa
ekspansi ke luar negeri untuk mengakuisisi aset hulu migas di negara
lain,
makin
menjadi sebuah
keniscayaan.
Ekspansi
ini juga sejalan dengan visi Pertamina yang ingin menjadi perusahaan
migas berkelas dunia.
Upaya
ekspansi ini sudah mulai dilakukan Pertamina
sejak
2013, melalui anak usaha PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan
Produksi (PIEP), dengan mencoba masuk ke Aljazair, Irak, dan
Malaysia. Walhasil, hingga akhir tahun lalu, sudah jutaan barel
minyak dari luar negeri dibawa ke Indonesia. Kabarnya, sampai akhir
tahun ini ditargetkan bisa membawa total lebih
dari 16
juta barel minyak dari luar ke Tanah Air.
Selain
melakukan ekspansi ke luar, untuk ketahanan energi, Pertamina juga
berkomitmen terus meningkatkan porsi penggunaan EBT (Energi Baru dan
Terbarukan), sebagai sumber energi alternatif pengganti migas dan
bahan bakar yang berasal dari fosil lainnya. Senior Vice President
Corporate Strategic Growth PT Pertamina (Persero), Daniel S. Purba,
mengatakan bahwa komitmen pengembangan EBT ini sudah dituangkan ke
dalam misi Pertamina sebagai energy
company.
”Kita
terus berusaha mencapai target
porsi
EBT di kebijakan bauran energi nasional menjadi 23 persen pada tahun
2025," kata Daniel di sela acara pada forum The 6th INDOEBTKE
ConEx 2017 di Jakarta, medio September lalu.
Daniel
mengungkapkan, EBT yang kini diprioritaskan Pertamina adalah
geothermal,
biodiesel, biomass, mini
hydro,
dan solar
fotovoltaik (Solar PV).
Sejumlah lokasi operasi Pertamina saat ini sudah menggunakan Solar PV
untuk memenuhi kebutuhan listriknya,
termasuk Kantor
Pusat Pertamina di Jakarta.
Pertamina
juga sedang mengevalusi beberapa sumber EBT untuk pengembangan
komersial, seperti wind
power, hydro large, bioevture dan
bioethanol.
Dalam
pengembangan EBT, Pertamina menjalin kerjasama dengan berbagai
pemangku kepentingan yang kompeten. Semuanya dilakukan sebagai upaya
menjaga ketahanan energi, sambil terus melaksanakan kebijakan
pemerataan distribusi energi untuk keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.***
Jakarta, 19 Oktober 2017
Endang
Sukendar
esukendar@gmail.com


Komentar
Posting Komentar