Obrolan dengan Dirut Pertagas: Ayo berubah dari Hanya Transporter Menjadi Marketer




                                                                                                 netralnews.com

Bagi Suko Hartono, gas boleh dibilang seperti mainan sehari-hari yang sudah sangat karib dengan dirinya. Ia sudah sangat memahami seluk beluk bisnis barang mudah menguap yang tak tak kasat mata dan tak berasa itu. Maklumlah, sarjana Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memang sudah 20 tahun ‎mengabdi di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, atau lebih dikenal dengan nama PGN. Berbagai posisi dan penugasan sudah ia emban di perusahaan transporter dan distributor gas terbesar Indonesia itu. Antara lain sebagai General Manager Strategy Business Unit (SBU) Wilayah I Jawa Bagian Barat, dan Direktur Utama PT Gagas Energi Indonesia, anak perusahaan PGN.


Kini, dengan pengamalan luas yang ditimbanya di PGN, suami Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas, Dr. Amalia Adininggar Widyasanti, ini bertekad melakukan transformasi untuk mengembangkan Pertagas, setelah ditunjuk menjadi Presiden Direktur (Presdir). “Arahnya ke depan saya ingin membawa Pertagas tidak hanya sebagai transporter gas tapi juga offtaker, sebagai pemilik yang bisa menjual atau mendistribusikan gas kepada end user di pasar yang lebih luas,” ujar Suko Hartono. Dan untuk itu, katanya, mau tidak mau harus melakukan transformasi.



Berikut ini adalah petikan obrolan saya secara khusus dengan Presdir Pertagas, Suko Hartono, di ruang kerjanya, Gedung Oil Center, Jalan Thamrin, Jakarta, awal September lalu, mengenai transformasi yang ia canangkan di Pertagas.



Apa pemikiran yang melatarbelakangi transformasi Pertagas?



Saya berpikir bahwa bisnis gas ini sangat luas. Selama ini, kita Pertagas, hanya menangani bidang infrastruktur, sebagai transporter. Sedangkan bidang niaganya ditangani terpisah oleh Pertagas Niaga, anak perusahaan kita. Ada juga bidang upstream sebagai suplayer yang juga bisa kita tangani. Nah, bidang-bidang ini akan lebih efektif kalau dilakukan secara terintegrasi.



Pertagas saat ini hanya berperan sebagai pengangkut barang milik pihak lain (shipper), melalui pipa yang kita bangun. Kita hanya mendapat upah melalui toll fee, yang besarnya ditentukan pemerintah. Kalau pemerintah menurunkan toll fee, ya pendapatan kita juga turun. Seperti terjadi di pipa Arun-Belawan, misalnya.



Karena perubahan lingkungan bisnis kita itu mudah berubah (volatile), dan bisa tidak menentu (uncertainty), maka bisnis kita pun bisa tidak menentu. Karena itu saya melihat tidak ada pilihan, kita harus bertransformasi. Saya ingin mengubah Pertagas yang semula hanya transporter, menjadi menangani bidang transporter dan sekaligus niaga, sebagai penjual. Dengan demikian kita akan bermain juga di hilir yang lebih fleksibel, dan adaftif terhadap perubahan lingkungan.



Bagaimana perubahan manajemen yang akan dilakukan?



Dari sisi managemen, pertama, kita harus menata proses bisnis secara terintegrasi melalui koordinasi dengan Pertamina, mulai dari hulu sampai hilir. Kemudian kita meminta kepada koorporasi agar semua barang di hulu diserahkan ke kita, agar kita bisa membuat strategi yang pas di hilirnya --yang kita namakan dengan istilah novasi (pengubahan). Yang kita novasi itu adalah pelanggannya, bukan barangnya. Barang-barangnya tetap milik anak-anak perusahaan Pertamina. Kita hanya mewakili pelanggan atau pembeli dengan membeli barangnya di hulu, kemudian kita menjual kepada end user. Sehingga, persoalan-persoalan transporter itu, seperti membuat gas transport agreement, dan lain-lain, tidak perlu dipikirkan lagi oleh hulu, karena kita yang akan memikirkannya sebagai pemilik barangnya.



Jadi, transformasi yang kita rancang adalah mengubah, dari semula bisnis kita ditentukan pihak ketiga (pemerintah atau shipper), menjadi pemilik barang sendiri yang akan men-deliver barang sampai ke end user. Jadinya terintegrasi. Hari ini kita ngebor, hari ini juga kita bisa jualan.



Sebenarnya transformasi ini tidak luar biasa. Saya hanya menata saja. Yang sebelumnya hanya transporter, sekarang menangani komersial juga. Dengan demikian kita bisa meraih revenue yang lebih besar. Logika berpikirnya sederhana: kalau kita jualan, pasti kita dapat transportasi juga. Selain itu, kalau kita jualan, kita juga tak akan kena pajak dua kali. Beda dengan cuma transportasi, kita dikenai iuran dan harus bayar pajak juga, karena legal perusahannya unbundling (terpisah) antara transporter dan niaga. Tapi kalau transporter dan niaga disatukan, kita tidak akan kena pajak dua kali karena barangnya satu.


Transformasi ini akan mengubah organisasi perusahaan?

Secara organisasi tentu akan ada perubahan. Presdir saat ini membawahi tiga direktur, yakni direktur operasi, direktur finance dan business support, serta direktur komersial dan bisnis development. Nanti direktur komersial dan business development akan kita pisahkan, masing-masing menjadi direktur komersial dan direktur business development. Direktur komersial inilah yang akan ditugaskan mencari gas dan mengatur strategi sebagai sales di area-area wilayah kerja. Sedangkan direktur business development saya arahkan untuk merencanakan dan membangun, karena kecepatan membangun itu berpengaruh pada kecepatan mendapatkan duit. Lalu, direktur operasional ditugaskan mengatur lalu lintas gas, dan memelihara asset agar setiap saat bisa teroptimalisasi.

Tapi untuk melakukan perubahan organisasi itu tentu ada prosedurnya. Saya harus menunggu persetujuan komisaris. Sekarang saya menyiasatinya, dengan menarik bidang bussiness development yang khusus menangani bisnis ke bagian saya. Dan nanti akan ada bagian yang menangani stake holders management, untuk membina hubungan baik dengan pemerintah, karena menyangkut regulasi dan sebagainya. Dan yang menyangkut bisnis ini akan saya satukan dengan bagian management strategy, yang menangkap isu-isu yang akan menjadi feed-nya direksi untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Lalu, bidang yang digarap anak perusahaan kita, Pertagas Niaga, khusus yang menyangkut niaga pipa akan saya tarik ke tempat saya. Sehingga akan menjadi satu kesatuan yang mudah dalam menentukan strategi bagi niaga yang menggunakan pipa.

Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan untuk seluruh karyawan Pertagas dalam konteks transformasi ini?

Dengan tarnsformasi ini, kita yang sebelumnya hanya masuk di hulu yang sifatnya high risk low return, karena tarif sudah diatur, kini masuk di hilir (distribusi), yang sifatnya low risk high return. Dengan demikian, revenue yang bisa didapat bisa lebih besar. Tapi persoalannya, kita harus mencari pelanggan. Karena itu, saya ingin berpesan marilah kita mengubah culture. Kalau sebelumnya hanya mengoperasikan, sekarang kita harus mencari dan melayani pelanggan. Bahkan pelanggan retail.



Marilah melakukannya dengan dingin dan jernih. Saya sendiri menjalankan strategi ini dengan pikiran jernih. Saya tak punya konflik kepentingan. Kalau berpikir jernih, tanpa kepentingan apa pun, rasanya mudah melakukannya. Seperti presiden kita, yang bisa mengambil keputusan apa pun secara cepat, tanpa beban apa pun.



---


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana menulis E dan EU dalam Bahasa Sunda?

Pipitputih Sahabat Maya

Menangkal Hoax di Tahun Politik