Potret Model Program Sosial Perusahaan
Foto : google.com
Program CSR (Corporate Social Responsebility) atau tanggung jawab sosial perusahaan makin populer di Indonesia kira-kira dalam satu dasawarsa belakangan ini. Banyak perusahaan mulai menyadari manfaat program CSR, karena ternyata paralel dengan strategi pemasaran dan pengembangan bisnis mereka. Potensi program CSR lumayan besar.
Data di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat, nilai program CSR dari seluruh perusahaan di Indonesia mencapai sekitar Rp 14 triliun per tahun. Namun, masih banyak program CSR yang digarap secara instan, per proyek sekali jalan yang bahkan terkesan basa-basi. Padahal, program sosial ini bisa dilaksanakan secara kerkesinambungan dengan basis partisipasi langsung masyarakat, yang selain bermanfaat bagi masyarakat juga menguntungkan perusahaan.
Dr. Risa Bhinekawati, S.E., MBA, mencoba memotret program CSR yang berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia dalam bukunya. Risa mengambil pelajaran dari program CSR PT Astra International Tbk (Astra). Astra menunjukkan bahwa program CSR yang mereka terapkan dengan melibatkan partisipasi langsung masyarakat mampu mendukung perusahaan untuk makin berkembang.
Risa saat ini adalah dosen kewirausahaan di Universitas Agung Podomoro, Jakarta. Dunia CSR tidaklah asing baginya. Risa bahkan pernah meraih penghargaan dari BBC London ketika menjabat Direktur Eksekutif Danamon Peduli berkat program CSR di bidang pemberdayaan masyarakat. Risa yang sebelumnya juga menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Affair Unilever Indonesia, meraih gelar doktor bidang CSR dari Australia National University (ANU), Australia, awal tahun ini, dengan disertasi berjudul “To Prosper with the Nation: The Social Capital that Bridges CSR Programs and Corporate Sustainability in a Developing Country”.
Disertasi itulah yang kemudian menarik Routledge, penerbit terkenal di Inggris untuk mengajak Risa menuliskannya dalam buku populer. Maka terbitlah buku Risa dengan judul 'Corporate Social Responsibility and Sustainable Development: Social Capital and Corporate Development in Development Economies'. Buku ini diluncurkan di Kedutaan Besar Australia, di Jakarta, pada akhir Maret 2017.
Buku ini memaparkan cara Astra ikut mengentaskan kemiskinan melalui program CSR yang dilaksanakannya. Kemiskinan tidak diukur hanya dari rendahnya penghasilan seseorang. Tapi yang lebih mendasar, orang miskin adalah yang tidak mempunyai kemampuan dan akses untuk berpartisipasi pada kegiatan ekonomi secara produktif. Sejak tahun 1980, Astra telah menerapkan program CSR dengan memberdayakan lebih dari 8,000 usaha mikro, kecil dan menengah dan 7,000 petani sawit untuk menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan.
Astra juga mendirikan Politeknik yang telah menghasilkan 2,500 lulusannya, serta mendidik tenaga putus sekolah untuk menjadi tenaga terampil yang siap pakai. Dengan program sosial berkelanjutan ini Astra ikut serta mengentaskan kemiskinan sekaligus mengembangkan perusahaannya melalui kemitraan dengan masyarakat yang dibantunya. Astra percaya bahwa perusahaan hanya bisa sejahtera jika masyarakat sejahtera. Untuk itu, Astra telah menjalankan fungsi “hibrid” yaitu mencari keuntungan dan sekaligus menyejahterakan masyarakat.
Buku ini menyuguhkan data empiris bagaimana hubungan antara program pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs), program CSR, modal sosial dan keberlanjutan perusahaan. Erna Witoelar, Mantan Duta Besar PBB untuk Millennium Development Goals (MDGs) dan juga Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Indonesia 1999-2001, memberi catatan.
“Buku ini hadir tepat waktu, karena negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sedang berupaya mencapai 17 tujuan SDGs pada tahun 2030, di antaranya pengentasan kemisikinan, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan kualitas pendidikan," tulis Erna. Menurut Erna, buku ini banyak memberi inspirasi tentang bagaimana mewujudkan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).
Endang Sukendar

Komentar
Posting Komentar