Semangat Belajar Anak Pencari Kayu Bakar
Matahari
baru saja menggeliat dari peraduannya. Pagi masih begitu dingin,
apalagi gerimis kecil belum juga terhenti sejak dinihari. Tapi di
pagi yang tidak begitu cerah itu Engkus Kusnaedi sudah siap di atas
sepedanya, dengan seragam sekolahnya.
Setelah
menyalami dan mencium tangan ibu-bapaknya, Engkus bergegas mengayuh
sepedanya menuju jalan besar, dari jalanan kecil yang becek di depan
rumahnya.
Pelajar
kelas dua sekolah menengah pertama (SMP) itu terlihat agak lucu
karena memakai baju plastik anti basah yang aneh. Yang dikenakannya
bukan jas hujan yang lazim, tapi hanya kantong plastik besar --entah
bekas apa, yang dibuat ibunya jadi baju besar. Tujuannya sekadar
berjaga-jaga menghindari air hujan membasahi pakaian.
Musim
hujan seperti ini memang agak merepotkan Engkus yang biasa bersepeda
ke sekolah. Anak 14 tahun itu harus menempuh jarak sekitar 10
kilometer dari rumahnya dengan berselimut plastik, acapkali di tengah
guyuran hujan lebat. Dan, sampai di sekolah, kadang "jaket
plastik" buatan ibunya itu pun tak banyak menolong, karena
bajunya tetap saja basah kuyup. Sampai-sampai gurunya pernah
membukakan dan mengeringkan bajunya, sementara Engkus diselimuti
dengan jaketnya.
Engkus
adalah siswa SMP Negeri 1 Cikaum, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang,
Jawa Barat. Ia tinggal bersama orang tuanya di Kampung Kaligambir,
Desa Sindangsari, Kecamatan Cikaum. Kampungnya termasuk daerah
pedalaman, yang terletak sekitar 20 kilometer dari kota Subang ke
arah barat laut. Cikaum merupakan kecamatan baru hasil pemekaran dari
kecamatan lama, Purwadadi. Cikaum, yang menjadi ibukota kecamatan
baru itu pun hanya sebuah kampung di pelosok. Jaraknya kira-kira 7
kilometer dari ibukota kecamatan lama, Purwadadi.
SMP
Negei 1 Cikaum adalah SMP terdekat dari Kampung Kaligambir. Tiap hari
Engkus harus menempuh perjalanan selama kira-kira 45 menit dengan
sepedanya, melewati jalanan desa yang sebagian di antaranya dalam
kondisi rusak sehingga menimbulkan genangan-genangan air di
lubang-lubangnya. Selain itu, sebagian rutenya juga harus melewati
hutan-hutan kecil, tanah-tanah kosong bersemak, atau ladang-ladang
luas yang jauh dari permukiman.
Sebenarnya
Engkus tidak sendirian. Dari kampungnya ada sekitar 10 siswa lain
yang bersekolah di SMP yang sama. Namun, anak-anak lain sering
diantar orang tuanya dengan sepeda motor, apalagi pada musim hujan.
Hanya sekali-sekali saja mereka berangkat bersama dengan mengendarai
sepeda.
"Kalau
teman-teman diantar bapaknya pakai motor, saya berangkat sendiri
saja. Tapi di jalan sering ketemu teman yang bawa sepeda juga,"
kata Engkus.
Semangat
anak itu memang tinggi. Cita-citanya ingin bekerja di pabrik mobil.
Karena itu ia ingin masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) setelah
tamat SMP nanti. Selama hampir dua tahun menjadi siswa SMP Negeri 1
Cikaum, Engkus mengaku tak pernah bolos, atau terlambat. Tiap hari
Engkus selalu berangkat lebih pagi, mendahului teman-teman yang
diantar orang tuanya.
Dorongan
Sang Ayah
Ayah
Engkus, Wasnudin --biasa dipanggil Udin, selalu menyemangati anak
semata wayangnya untuk rajin sekolah, meski harus terus bersepeda.
"Saya sering menasihati Engkus, jangan seperti bapak, cuma tamat
SD, Engkus harus sampai SMK," kata buruh tani berumur 40-an
tahun itu.
Udin
mengaku senang karena anaknya bisa bersekolah, hampir tanpa biaya,
berkat program-program subsidi pemerintah. "Dulu di zaman saya,
sekolah itu harus bayar. Dan sekolahnya jauh. Bapak saya tidak punya
biaya untuk menyekolahkan saya ke SMP. Bapak juga tak bisa belikan
saya sepeda," tutur Udin.
Di
perkampungan seperti di Kecamatan Cikaum, sampai kini tak ada
angkutan umum yang bisa ditumpangi anak-anak ke sekolah. Padahal,
menurut Udin, untuk bersekolah ke SMP pada zamannya, jarak yang harus
ditempuh sekitar 12 kilometer karena SMP terdekat hanya ada di
ibukota kecamatan lama, Purwadadi. Sedangkan sekolah dasar (SD) kala
itu hanya ada di dekat balai desa yang jaraknya sekitar 3 kilometer
dari rumah Udin.
"Sekarang
SD sudah ada di kampung sini. SMP walaupun masih jauh, masih
mendingan
karena jalanannya sekarang sudah lebih bagus. Dulu jalannya masih
jalan tanah, kalau musim hujan licin dan berlumpur," tutur Udin
lagi.
Yang
membuat Udin senang, pemerintah kini telah membebaskan iuran sekolah.
"Sekarang saya cuma memikirkan uang jajannya dan baju seragamnya
saja," kata Udin. Ia mengungkapkan bahwa tiap hari, anaknya
biasa dibekali uang saku Rp 4.000 sampai Rp 6.000 saja, plus bekal
nasi timbel
yang dibawa dari rumah untuk sarapan atau makan siangnya.
Bagi
sebagian orang tua murid, uang jajan itu tentu sangat kecil sekali.
Tapi Udin tak bisa memberinya lebih. Ia mengaku hidupnya paspasan.
Pekerjaannya serabutan. Apa saja ia kerjakan asal menghasilkan uang,
mulai dari mencangkul di sawah orang lain, membantu tukang bangunan,
sampai menjadi kuli bongkar muat di pangkalan pasir.
Kalau
sedang sepi pekerjaan Udin rutin mencari kayu bakar ke hutan-hutan
kecil di tepi Sungai Ciasem, memunguti ranting kering yang patah,
atau cabang pohon yang runtuh, lalu dijual kepada tukang soto atau
tukang kue surabi yang biasa menggunakannya untuk memasak
dagangannya.
Engkus
pun biasa mencari kayu bakar sepulang sekolah atau pada hari libur.
Seikat kayu bakar, kira-kira selingkaran pinggang, biasanya laku Rp
2.000. Kalau dapat lima ikat, cukuplah untuk bekal sekolahnya selama
dua hari. Tapi Engkus anak yang hemat. "Seringkali uang sakunya
ditabung sebagian. Ia sering tidak jajan karena bawa nasi dari
rumah," tutur Udin.
Istri
Udin, ibunda Engkus, ikut berusaha dengan membuka warung kecil di
rumahnya yang mungil -yang masih berdinding bilik bambu. Selain itu,
Udin juga memelihara kambing di belakang rumahnya.
Engkus
pun sering membantu bapaknya mencarikan rumput untuk
kambing-kambingnya. "Sekarang kambingnya tinggal dua. Yang satu
sudah dijual untuk beli seragam sekolah Engkus," kata Udin.
Seekor kambing berharga sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1 juta.
Hampir
Tak Bisa Makan
Udin
bertutur, suatu waktu ia tak bisa bekerja karena sakit. Modal
warungnya habis untuk berobat. Warungnya tutup dan Engkus berangkat
ke sekolah tanpa uang jajan, tanpa bekal sarapan pula. "Saya
minta Engkus tidak sekolah dulu, takut dia sakit. Tapi dia maksa.
Anak itu semangat sekolahnya tinggi," cerita Udin. Engkus pun
berangkat ke sekolah setengah berpuasa. Untunglah, kata Udin, ada
tetangga yang menolongnya meminjamkan uang dan beras, sehingga
keluarganya bisa makan.
Keluarga
Udin sebenarnya termasuk keluarga pra sejahtera yang mestinya
mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Engkus juga sebetulnya
berhak mendapatkan Kartu Indonesia Pintar sebagai peserta Program
Indonesia Pintar. Namun, Udin mengaku tak tahu menahu mengenai
program-program bantuan pemerintah itu. "Ah saya mah
orang bodoh. Kalau tidak dikasih ya tidak tahu harus minta ke siapa,"
gumamnya dengan mimik lugu.
Namun,
satu hal yang sangat ia harapkan adalah: anaknya bisa bersekolah
sampai SMK, seperti anak saudaranya yang sudah lulus SMK dan kemudian
bisa bekerja di kota. "Saya ingin anak saya sekolah sampai SMK,
supaya bisa bekerja yang bener
dan
punya gaji, jangan terus miskin seperti bapaknya," kata Udin. Ia
berusaha tersenyum, meski agak getir. Ia berharap anaknya bisa
diterima di SMK kelak, dan pemerintah membebaskan biaya pendidikannya
sampai tamat.
Udin
berterimakasih kepada pemerintah yang telah membebaskan biaya sekolah
sehingga orang kecil seperti dia bisa menyekolahkan anaknya sejak SD
sampai SMP sekarang. Ia juga memuji pemerintah yang telah membangun
SD di kampungnya dan dua buah SMP di kecamatan barunya. Memang lokasi
SMP baru yang terdekat masih cukup jauh dari kampungnya, tapi Udin
merasakan betapa orang-orang kampung yang tinggal dekat ibukota
kecamatannya begitu terbantu dengan SMP baru itu.
Udin
berharap kelak pemerintah juga bisa membangun SMP yang tak jauh dari
kampungnya, atau setidaknya membangun kelas jauh dari SMP yang sudah
ada. Dengan begitu, anak-anak di kampungnya tidak harus pergi jauh
untuk menamatkan SMP-nya.
Harapan
Udin sebenarnya sedang terus dipikirkan pemerintah. Pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus
berupaya membantu masyarakat hingga ke kawasa-kawasan pelosok dengan
pemerataan layanan pendidikan yang adil, untuk meningkatkan akses
pendidikan.
Kemendikbud
menargetkan pada tahun 2017 ini bisa membangun 210 sekolah baru,
2.500 ruang kelas baru, merehabilitasi 41.000 ruang kelas lama,
merenovasi 294 sekolah, membangun 2.140 laboratorium atau ruang
praktek, dan membuat 1.332 perpustakaan sekokah. Kemendikbud juga
terus mengembangkan Program Indonesia Pintar untuk membantu para
siswa dari keluarga tidak mampu.
Targetnya, tahun 2017 ini bisa membagikan Kartu Indonesia Pintar
kepada 17,9 juta siswa (www.kemendikbud.go.id, 2 September 2016).
Sasaran utamanya adalah daerah yang masuk kategori 3T (Terdepan,
Terluar, Tertinggal).
Desa
Sindangsari, tempat tinggal Engkus sebenarnya tidak termasuk kategori
3T. Tapi Udin, orang tua Engkus sangat berharap anaknya bisa dibantu
mencapai cita-citanya masuk SMK, agar kelak bisa mendapatkan
pekerjaan yang layak supaya tidak terus terkungkung kemiskinan
seperti dirinya. *****
Jakarta, medio April 2017
Endang
Sukendar
esukendar@gmail.com
HP
: 0817878181

Komentar
Posting Komentar