Tantangan Pendidikan Keluarga di Era Digital
Ilustrasi (Foto: google.co.id)
Bulan Mei adalah Bulan
Pendidikan. Pada awal bulan ini, tepatnya pada tanggal 2 Mei, seluruh
bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas),
yang diambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak
Pendidikan Nasional. Dengan pencanangan Mei sebagai Bulan Pendidikan,
pemerintah berharap semua elemen bangsa melakukan semacam perenungan
dan evaluasi, sekaligus memberikan perhatiannya, sekecil apa pun,
terhadap dunia pendidikan.
Dalam
konteks bulan pendidikan ini, sebuah diskusi kecil digelar di Rumah
Jejak Pena, di kawasan Tebet Timur, Jakarta Selatan, pada awal minggu
kedua Mei lalu. Rumah Jejak Pena adalah semacam sanggar kerja yang
sering dijadikan tempat berkumpul para seniman grafis, penulis, dan
praktisi multimedia, untuk sekadar ngobrol-ngobrol
sambil
ngopi.
Hari
itu, topik yang dibahas adalah mengenai peran keluarga dalam
pendidikan anak di tengah perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang kian pesat. Topik ini diangkat dari
tiga butir pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dikutip Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhajir Effendy,
M.A.P., dalam pidatonya pada Peringatan Hardiknas 2 Mei lalu. Butir
pertama adalah Panca Dharma, yang menurut Mendikbud bermakna:
pendidikan perlu beralaskan lima dasar yakni kemerdekaan, kodrat
alam, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Kedua, Ko-tiga, yaitu:
penyelenggaraan pendidikan harus berdasarkan azas kontinuitas,
konvergensi, dan konsentris. Artinya, proses pendidikan perlu
berkelanjutan, terpadu, dan berakar di tempat dilangsungkannya proses
pendidikan itu. Dan butir ketiga pemikiran Ki Hadjar yang dikutip
Mendikbud adalah Tri Pusat Pendidikan. Maknanya, proses pendidikan
harus dilakukan di tiga tempat secara terpadu, yang tidak dapat
dipisahkan, yaitu: di keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dunia
Disatukan Gadget
Dalam
diskusi di Rumah Jejak Pena itu mengemuka bahwa peran keluarga sangat
dibutuhkan di era globalisasi ini, ketika dunia disatukan oleh
teknologi informasi dan komunikasi yang kian canggih, yang membuat
sekat-sekat wilayah antar negara seakan tak ada lagi. "Di era
digital ini, setiap orang, tua-muda, bisa melihat dunia lain, negara
lain, budaya bangsa lain, dengan mudah melalui internet. Dan internet
sangat mudah diakses melalui perangkat
gadget
yang anak-anak pun sudah memilikinya," kata Arief Darmadi,
seorang
desainer
grafis
dan praktikus teknologi informasi, yang berbicara dalam diskusi itu.
Menurut
Arief, gadget
atau gawai bahkan lebih banyak digunakan anak-anak dan remaja dalam
mengakses dunia maya. "Padahal muatan atau konten internet,
termasuk muatan aplikasi media sosial di gadget
itu tidak semuanya positif. Bahkan banyak yang bersifat merusak, baik
dalam bentuk grafis atau gambar (image),
tulisan, maupun dalam bentuk video," kata ayah dua anak yang
masih kecil-kecil itu. Bentuk-bentuk pornografi, misalnya, bertebaran
di berbagai situs di internet, dan umumnya mengundang kepenasaranan
para remaja, sesuai dengan karakternya yang serba ingin tahu.
"Produk-produk pornografi itu tentu berbahaya karena secara
tidak langsung akan memberi pengalaman seksual sebelum waktunya
kepada anak-anak yang tentu saja akan mempengaruhi perilaku
seksualitas mereka," papar pria yang tinggal di kawasan Cawang,
Jakarta Timur itu.
Tidak hanya itu. Muatan
lain yang berbahaya dari internet adalah pemikiran-pemikiran sempit
kelompok tertentu yang cenderung berorientasi pada kepentingan SARA
(suku, agama, ras, dan antar golongan). Pemikiran-pemikiran sempit
itu bertebaran di berbagai situs bahkan menjadi propaganda
sehari-hari di media sosial untuk kepentingannya masing-masing.
"Pemikiran-pemikiran yang antara lain bernuansa sektarian,
primordial dan rasis itu berpotensi membentuk pola pikir dan perilaku
anak-anak sehingga sangat berbahaya bagi keutuhan, persatuan dan
kesatuan bangsa di kemudian hari," kata Sayoga, seorang editor
di sebuah majalah komunitas pendidikan.
Sayoga
menyebutkan, dalam beberapa kasus berbau SARA yang terjadi belakangan
ini sering memperlihatkan keterlibatan anak-anak dan remaja. "Mereka
terlibat seolah-olah hanya karena sudah terpengaruh oleh perilaku
emosional massa tertentu yang dengan mudah tersebar melalui jaringan
internet, atau melalui aplikasi-aplikasi media sosial," katanya.
"Kondisi ini diperburuk dengan munculnya situs-situs berita yang
kerap menebar berita bohong (hoax),
fitnah, hasutan bahkan caci maki dan cercaan, demi kepentingan
tertentu," papar Sayoga.
Pemerintah sebenarnya
telah berusaha menertibkan situs-situs yang berisi muatan negatif.
Namun, menyensor muatan internet saja memang tak akan berhasil jika
tidak diikuti dengan menyiapkan anak-anak sendiri dalam menghadapi
era informasi dan komunikasi yang makin bebas ini. "Karena itu,
keluarga dituntut lebih berperan. Sebab, membentuk perilaku anak-anak
sehari-hari lebih merupakan wilayah tanggung jawab orang tua di
keluarga," kata Ahmad Edy, editor media online yang juga aktif
berbicara di ajang diskusi itu.
Edy
mengungkapkan bahwa dewasa ini para orang tua semakin sibuk bekerja,
membuat mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan anak-anaknya,
apalagi mendampingi anak-anak ketika membuka internet sekaligus
memberikan pengertian mengenai muatan yang bersifat negatif dan
positif. "Mereka pun tidak sadar anak-anaknya telah dicekoki
muatan internet yang negatif lewat gawai yang mereka belikan,"
kata Edy.
Peduli Kemdikbud
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemdikbud) tentu menyadari tantangan yang makin besar
dalam penyelenggaraan pendidikan di keluarga. Karena itulah,
Kemdikbud kini telah membentuk sebuah direktorat khusus untuk
menangani pendidikan keluarga, yakni Direktorat Pembinaan Pendidikan
Keluarga, di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan
Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD dan Dikmas).
Sebagai upaya penyadaran
akan pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak di rumah,
pertengahan tahun lalu, Ditjen PAUD dan Dikmas telah menyelenggarakan
kegiatan "Semarak Pendidikan Keluarga" di Plasa Insan
Berprestasi Kemdikbud, Jakarta. Acara yang mengangkat tema: "Gerakan
Pendidikan Keluarga untuk Menumbuhkan Budi Pekerti dan Budaya
Prestasi Anak”, itu digelar dengan tujuan untuk mengingatkan
pentingnya pelibatan keluarga bagi orangtua, peserta didik, kepala
sekolah, guru, dan pemangku kepentingan lainnya.
Direktur Jenderal PAUD
dan Dikmas, Dr. Ir. Harris Iskandar, menegaskan pentingnya peran
berbagai pihak dalam meningkatkan pendidikan. “Pendidikan adalah
tanggung jawab kita bersama. Karena itu, semua pihak perlu terlibat
untuk menyukseskannya,” ujarnya. Menurut Harris, Ki Hajar Dewantara
sejak tahun 1935 telah mengingatkan bahwa keluarga, satuan
pendidikan, dan masyarakat merupakan tri sentra pendidikan.
"Kemitraan yang baik di antara ketiganya dengan dilandasi
semangat gotong royong diharapkan dapat mendukung terciptanya
ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi,"
kata Harris.
Direktur Pembinaan
Pendidikan Keluarga, Dr Sukiman Mpd, juga pernah menyatakan bahwa
keselarasan antara pendidikan yang dilaksanakan di satuan pendidikan
dan lingkungan keluarga merupakan kunci keberhasilan pendidikan.
"Keberhasilan akan semakin tinggi bila terjalin kemitraan antara
sekolah dan unsur masyarakat pendukung pendidikan seperti komite
sekolah, paguyuban orang tua, organisasi profesi pendidik/tenaga
kependidikan, dan dewan pendidikan," kata Sukiman.
Mendikbud,
Muhadjir Effendy juga beberapa kali mengingatkan bahwa peran orangtua
sangat penting sebagai pendidik di rumah. Karena itu mereka perlu
belajar pendidikan khusus mengenai edu
parenting
(pendidikan keluarga). Tujuannya agar para orang tua lebih ikut
bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya di
luar sekolah, untuk bersama-sama membentuk generasi yang berkarakter
demi masa depan Indonesia. ***
Jakarta, 10 Mei 2017
Endang Sukendar

Komentar
Posting Komentar