Catur Dharma Memandu Astra Menuju Kebanggaan Bangsa
Grup Astra berhasil menjadi raksasa entitas bisnis kebanggaan nasional berkat nilai-nilai "Catur Dharma". Sukses menginspirasi negeri berkat inovasi di berbagai lini.
SUDAH 15 tahun lamanya Yahya menjadi petani sawit. Selama kurun waktu itu pula ia mengalami banyak perubahan. Warga Dusun Muhajir, Desa Jengeng Raya, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, itu pun mengaku banyak bersyukur.
Dulu rumahnya hanya gubuk kayu seadanya, terpencil di tengah hutan, nyaris tanpa akses jalan ke kota. Sekarang, selain rumahnya sudah lebih besar dan bagus, garasinya juga sudah berisi sepeda motor dan sebuah mobil keluarga. Desanya sudah berkembang, dan penduduknya makin sejahtera.
Hidup Yahya juga jauh lebih baik. Anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Satu di antara putera-puterinya saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi di ibukota kabupaten. ”Saya sendiri cuma sampai sekolah dasar, karena orang tua tak mampu menyekolahkan lebih tinggi,” kata pria 50 tahun, ayah tiga anak dan kakek dua cucu itu, ketika saya wawancarainya melalui telepon dari Jakarta, medio November 2017 lalu.
Yahya bertutur, awalnya ia adalah petani kakao. Luas kebunnya sekitar 2 hektare, warisan orang tuanya. Namun, pada akhir tahun 1990-an kebun kakaonya diserang penyakit busuk buah. Ribuan pohon kakao milik Yahya dan para petani lainnya di Mamuju Utara gagal panen karena buahnya busuk sebelum matang. Modal jutaan rupiah yang dihabiskan Yahya untuk merawat kebunnya tidak kembali, dan ia pun terlilit utang.
Pada tahun 2002, kebun kakaonya bisa dibilang sudah bubar sama sekali. Yahya pun terpaksa bekerja serabutan. Dalam kegalauan itu, datanglah perusahaan sawit milik Grup Astra, PT Surya Raya Lestari (anak perusahaan PT Astra Agro Lestari, Tbk) menawari bantuan usaha. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan -atau populer dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan ini mengajak para petani di sekitar lokasi kebunnya untuk menjadi mitra. Astra sendiri menyediakan benih sawitnya, membina para petani selama penanaman, pemeliharaan hingga pemanenannya, dan bersedia membeli buah sawit hasil kebun mereka.
Jadi Petani Binaan Astra
Yahya kemudian bergabung bersama para petani lain menjadi petani mitra binaan Astra. Dengan benih sawit yang diutang dari Astra, mereka pun mulai menanami kebunnya. Sebelum sawitnya menghasilkan, para petani dipekerjakan oleh Astra di kebun perusahaan, sehingga mereka mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
“Alhamdulillah, akhirnya kebun sawit kami berbuah, dan sejak itu kami punya penghasilan tetap karena buahnya langsung ditampung perusahaan,” kata Yahya, mengenang awal usahanya. Kini, Yahya mengaku meraup penghasilan tetap sekitar Rp 8 juta dari 2 hektar kebun sawitnya dalam sebulan.
Kisah sukses lainnya dialami oleh Jamaluddin, warga Dusun Karya Makmur, Desa Makmur Jaya, masih di Kecamatan Tikke Raya, Mamuju Utara. Ketika diwawancarai lewat telepon dari Jakarta, Jamaluddin bertutur bahwa pada awalnya ia adalah pendatang asal Enrekang, Sulawesi Selatan. Ia hijrah dari kampung orang tuanya untuk mencari penghidupan baru di Kabupaten Mamuju (sebelum dipecah menjadi Mamuju Utara), pada tahun 1998, yang kala itu masih masuk wilayah Sulawesi Selatan.
Jamaluddin membeli lahan 2 hektare seharga Rp 800.000 dari seorang warga, yang ia tanami kakao. Seperti yang dialami Yahya, tanaman kakaonya kemudian musnah diserang penyakit. Pada tahun 2002, Jamaluddin pun bergabung dengan Astra sebagai mitra binaan. Ia sukses. Berkat keuletan dan kepintarannya mengelola penghasilan, lahannya terus bertambah.
"Dengan tabungan hasil sawit, saya kemudian membeli tanah lagi dari penduduk. Sekarang saya sudah punya 10 kavling kebun sawit," kata Jamaluddin, tanpa menyebutkan luasnya. Ia mengaku mendapat penghasilan bersih Rp 20 juta hingga Rp 30 juta sebulan dari kebun sawitnya.
Dengan penghasilan yang lumayan besar itu Jamaluddin bertekad menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai sarjana. "Jangan seperti saya yang cuma lulus SMP," kata ayah empat putera dan satu puteri itu. Jamaluddin saat ini menjadi ketua Kelompok Tani Tosiampe, yang beranggotakan 100 orang. Di luar kelompok tani itu masih banyak kelompok tani lainnya yang mendapat binaan Astra, tak cuma dalam usaha kebun sawit, dan umumnya telah terangkat kehidupannya.
Community Development Area Manager PT Surya Raya Lestari, Budi Sarwono, mengatakan bahwa jumlah petani mitra Astra di Mamuju Utara mencapai sekitar 3.500 orang, yang terbagi dalam 100 kelompok. ”Para petani mitra itu mengelola kira-kira 35.000 hektare lahan, yang sebagian besar milik Astra. Petani seperti Pak Yahya dan Pak Jamaluddin, yang mengelola kebunnya sendiri itu hanya sekitar 15%," kata Budi kepada saya melalui telepon.
Menurut Budi, selain membina para petani, perusahaannya juga membina para peternak, yakni mereka yang tidak memiliki lahan atau tidak kebagian lahan untuk berkebun. "Mereka juga sukses sebagai peternak kambing, domba dan sapi," kata Budi. Para peternak itu bukan hanya mendapat bantuan modal usaha, pelatihan dan manajemen usahanya, tapi juga mendapat bantuan pemasarannya dari Astra.
Jamaluddin (tengah, berpeci) bersama kelompok tani yang mejadi binaan Astra (Foto: PT Surya Raya Lestari/Budi Sarwono)
Model Program CSR
Cerita dari Mamuju Utara tadi hanya sejumput kisah sukses masyarakat penerima manfaat program sosial perusahaan Grup Astra. Ada banyak kisah lainnya di banyak tempat di seluruh Indonesia tentang program-program pemberdayaan masyarakat yang dirancang CSR Astra. Astra boleh dibilang telah menjadi ikon atau model perusahaan yang memelopori program CSR berkelanjutan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Astra kini bahkan telah memiliki program Kampung Berseri Astra (KBA) yang merupakan program pengembangan masyarakat secara terintegrasi. KBA dilaksanakan dengan basis empat pilar program sosial yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan. Melalui program KBA ini, masyarakat dan Astra bekerjasama mewujudkan kampung yang bersih, sehat, cerdas dan produktif. Sampai Februari 2017 lalu, Astra telah memiliki 49 KBA yang tersebar di 17 provinsi, dan berharap bisa menambahnya hingga mencakup 34 provinsi, atau seluruh provinsi di Indonesia, tahun depan.
Program CSR memang makin populer di Indonesia kira-kira dalam satu dasawarsa belakangan ini. Direktur CSR Corporate Forum for Community Development (CFCD) , Ir. Thendri Supriatno, MBA, mengatakan bahwa saat ini kian banyak perusahaan yang mulai melaksanakan program tanggung jawab sosialnya.
"Namun, masih banyak perusahaan menganggap CSR sebagai program amal yang bersifat bantuan atau sumbangan saja. Karena itu, program CSR yang mereka jalankan umumnya lebih bersifat instan dan tidak berkelanjutan, tanpa melibatkan partisipasi masyarakat, bahkan terkesan hanya basa-basi, sekadar untuk pencitraan perusahaan," kata Thendri, dalam sebuah perbincangan dengan saya. "Padahal, jika dirancang dengan baik, CSR bisa diarahkan menjadi program pemberdayaan masyarakat yang bisa membantu pengentasan kemiskinan, sekaligus memberi benefit bagi perusahaan," jelas Thendri.
Pakar CSR, Dr. Risa Bhinekawati, S.E., MBA, sependapat dengan Thendri. Menurut doktor bidang CSR lulusan Australian National University (ANU), Canberra itu, program CSR mestinya dijalankan secara berkelanjutan berbasis partisipasi langsung masyarakat, seperti yang dijalankan ASTRA, yang ternyata mampu mendukung pengembangan perusahaan.
Risa yang saat ini mengajar sebagai dosen kewirausahaan di Podomoro University, Jakarta, memaparkan bahwa sejak tahun 1980, Astra telah menerapkan program CSR dengan memberdayakan lebih dari 8.000 usaha mikro, kecil dan menengah dan 7.000 petani sawit untuk menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan, sehingga masyarakat dan perusahaan bisa berkembang bersama-sama. Tak hanya itu. Astra juga membangun Politeknik yang telah mencetak 2.500 lulusan, serta mendidik pemuda-pemuda putus sekolah menjadi tenaga terampil yang siap pakai.
"Dengan program sosial berkelanjutan ini Astra telah ikut serta mengentaskan kemiskinan sekaligus mengembangkan perusahaannya melalui kemitraan dengan masyarakat yang dibantunya," kata Risa, yang pernah melakukan penelitian mengenai program CSR Astra untuk disertasi doktornya itu. Menurut Risa, Astra telah membuktikan bahwa program CSR dapat membantu mengentaskan kemiskinan, sehingga ikut menyukseskan program global, Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs).
Dr. Erna Witoelar, mantan Duta Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Millennium Development Goals (MDGs) dan juga mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Indonesia, memberikan apresiasi. Saat ini, katanya, negara-negara anggota PBB sedang berupaya mencapai 17 target SDGs pada 2030, di antaranya pengentasan kemisikinan, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan kualitas pendidikan. Menurut Erna, apa yang dilakukan Grup Astra memberi banyak inspirasi bagaimana mewujudkan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dalam mencapai SDGs.
Jadi Raksasa Bisnis
PT Astra Internasional, Tbk (Grup Astra) berulang tahun yang ke-60 pada 20 Februari 2017 lalu. Di usianya yang makin dewasa, perusahaan yang berawal dari bisnis otomotif itu kini telah menggurita menjadi grup usaha yang berpengaruh, dan menjadi ikon bisnis yang menginspirasi. Astra layak menjadi model bukan hanya di bidang pengelolaan program sosialnya yang memberdayakan, tapi juga di sisi manajemen, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Untuk sukses-suksesnya itu, Astra telah meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Yang terbaru adalah penghargaan Best Company di Indonesia 2016 dari FinanceAsia Magazine, dan Social Business Innovation Award 2016 dari Majalah Warta Ekonomi.
Grup Astra yang berkantor pusat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, itu kini memiliki 213 perusahaan dan menyerap tenaga kerja hingga 215.000 orang. Jika dihitung dengan perusahaan-perusahaan ikutannya seperti produsen komponen, pemasok bahan baku, dan perusahaan di bidang penjualan, jumlah tenaga yang dipekerjakan mencapai lebih dari satu juta orang.
Grup Astra memiliki tujuh lini bisnis dan sejumlah perusahaan terbuka yang menjadi anak-anak perusahaannya. Lini bisnis pertama adalah divisi otomotif, yang memproduksi sejumlah merek mobil dan sepeda motor, termasuk komponen kendaraan (spare parts). Divisi bisnis otomotif merupakan lini bisnis terbesar Grup Astra dengan kontribusi mencapai 40% dari total pendapatan Astra.
Divisi kedua adalah divisi jasa keuangan, yang meliputi perbankan, asuransi, dan multifinance. Di divisi ini Astra memiliki PT Bank Permata Tbk, Astra Federal International Finance, dan Astra Sedaya. Ketiga, divisi alat berat yang mencakup penambangan batu bara, kontraktor penambangan, dan energi. Keempat, divisi agribisnis, antara lain PT Astra Argo Lestari yang bergerak di bisnis perkebunan. Kelima, divisi infrastruktur dan logistik. Keenam, bidang teknologi informasi dan document solution.
Ketujuh adalah divisi properti, yang antara lain membangun dan mengoperasikan Menara Astra dan Astra Modern Land. Menara Astra yang merupakan 100% milik PT Astra International Tbk, sedang dibangun dengan ketinggian 260 meter dan akan menjadi salah satu dari kelompok gedung tertinggi di Jakarta. Gedung yang dibangun sejak Desember 2013 itu ditargetkan selesai pada tahun 2018.
Inovasi adalah Kunci
Presiden Direktur PT Astra International, Tbk., Prijono Sugiarto, mengatakan, kunci keberhasilan Astra adalah inovasi. “Seluruh perusahaan dituntut untuk terus berinovasi. Mereka yang menolak berinovasi, pada akhirnya akan bubar. Tanpa inovasi yang baik, sebuah perusahaan tidak akan selamanya berada di atas. Inovasi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar," ujar Prijono Sugiarto seperti dikutip KOMPAS.com, 15 Maret 2017.
Menurut Prijono, Astra yakin bahwa pencapaian kinerja perusahaan yang baik tidak lepas dari inovasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Inovasi ini telah dilakukan Astra terus menerus di semua lini bisnis. Di divisi otomotif, Astra sukses memproduksi beragam kendaraan bermotor model terbaru, meliputi sepeda motor Honda dan berbagai merek mobil yakni Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot dan UD Trucks. Untuk melayani konsumen purna jual, Astra dilengkapi dengan jaringan luas unit pemeliharaan dan perawatan kendaraan di seluruh Indonesia, termasuk penyedia suku cadang dan aksesoris otomotif.
Sebagai bagian dari inovasi itu, Astra telah meluncurkan produk mobil keluarga LCGC (Low Cost and Green Car) yakni Toyota Cayla dan Daihatsu Sigra. Kedua mobil hasil kolaborasi Toyota dan Daihatsu ini memiliki kandungan lokal lebih dari 90%. Keduanya merupakan kendaraan MPV (Multi Purpose Vehicle), jenis yang paling diminati masyatakat Indonesia. Sebelumnya, Astra telah sukses meluncurkan dua kendaraan perdana karya asli desainer Indonesia yang juga dikembangkan oleh tim Astra bersama Toyota dan Daihatsu, yaitu Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla.
Inovasi lain yang digagas Astra adalah penyediaan berbagai layanan, mulai dari bantuan konsultasi, fasilitas pembiayaan, perlindungan asuransi serta akses layanan darurat dan keluhan pelanggan (yang tersedia melalui AstraWorld). Untuk membantu konsumen dalam pembiayaan, Astra membangun perusahaan-perusahaan pembiayaan yang menawarkan kredit konvensional dan syariah.
Untuk penyediaan suku cadang, Grup Astra memiliki PT Astra Otoparts Tbk (AOP) yang memproduksi komponen otomotif untuk mobil dan sepeda motor. AOP menjual variasi produk yang lengkap untuk kebutuhan suku cadang melalui jaringan distribusi yang luas. Dengan kualitas produk berstandar internasional, AOP telah menjalin kemitraan bisnis dengan produsen otomotif berkelas global atau Original Equipment for Manufacturers (OEM). AOP telah mengekspor produknya ke lebih dari 30 negara di kawasan Asia Oceania, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan.
Di bidang pengelolaan sumber daya manusia, Astra juga terus berinovasi menjadikan para karyawannya sumber daya yang mumpuni dan profesional. Astra berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan training yang diselenggarakan di lembaga AMDI (Astra Management Development Institute). Astra terus memupuk potensi dan kemampuan insan-insannya dalam berinovasi melalui kompetisi tahunan yang disebut InnovAstra. Kompetisi yang dilaksanakan sejak tahun 1980 ini menjadi ajang apresiasi bagi para insan inovator di Grup Astra, dan telah melahirkan ratusan ribu proyek bisnis.
Filosofi Catur Dharma
Sukses Grup Astra menjadi perusahaan raksasa tak lepas dari keberhasilan perusahaan ini mengimplementasikan nilai-nilai dasar perusahaan yang ditetapkan Sang Pendiri, William Soeryadjaya, yakni apa yang disebut dengan Catur Dharma. Catur Dharma berisi empat butir pesan yang menjadi filosofi sekaligus panduan Astra dalam menjalankan usahanya.
Dharma pertama adalah menjadikan Astra perusahaan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Ketiga, menghargai individu dan membina kerjasama. Dan, keempat, senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Dengan nilai-nilai Catur Dharma, Astra sukses mewujudkan komitmennya menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, dan kini telah menjadi kebanggaan nasional.
Dalam diskusi bertema "Inspirasi 60 Tahun Astra" di Medan, Sumatera Utara, 22 September 2017 lalu, Yakub Liman, penulis buku "Astra, on Becoming Pride of The Nation" mengatakan, bahwa Catur Dharma merupakan core values perusahan bagi Astra. "Catur Dharma telah menjadi budaya perusahaan Astra dan membuat Astra mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, yang tujuan akhirnya adalah kesejahteraan bangsa dan kebanggaan nasional," kata Yakub.
Yakub yang pernah menjabat GM Astra Management Development Institute dan Direktur Politeknik Manufaktur Astra itu, mengungkapkan bahwa Catur Dharma telah menjadi Astra Code of Conduct dan Astra System of Management. Kode etik dan sistem manajemen ini berhasil menjadi panduan Astra menuju good corporate governance (GCG) dan mampu mengemas program CSR yang memberdayakan sebagai upaya Astra ikut mewujudkan kesejahteraan bangsa.
Dengan filosifi Catur Dharma, seperti diungkapkan Risa Bhinekawati, Grup Astra menyadari pentingnya membangun masyarakat agar ikut berkembang bersama perusahaan. Astra percaya bahwa perusahaan hanya bisa sejahtera jika masyarakat sejahtera. Untuk itu, Astra telah menjalankan fungsi “hibrid” yaitu mencari keuntungan dan sekaligus menyejahterakan masyarakat. Konsep ini berhasil, dan Astra sukses memberi banyak inspirasi selama perjalanannya yang gemilang dalam kurun enam dasawarsa ini.
Lanjutkan Astra, negeri ini membutuhkan kiprahmu lebih jauh, untuk menguruk kesenjangan sosial yang terlalu lebar, dan membagi kesejahteraan.. ***
Endang Sukendar
esukendar@gmail.com



Komentar
Posting Komentar