Memadukan Bisnis Pesawat, Klinik Anti Aging, dan Kegiatan Sosial
TOKOH
Dokter Natasha Cinta Vinski
Dalam
usianya yang masih belia, ia menjadi CEO di dua perusahaan dengan
bisnis yang jauh
berbeda.
Aktif pula di organisasi sosial menggarap bidang kesehatan dan
pendidikan.
Muda,
enerjik, dan sukses. Tiga kata itu mungkin pas untuk menggambarkan
dr. Natasha Cinta Vinski. Sebenarnya masih ada satu kata lagi:
dermawan. Bayangkan, gadis cantik blasteran Indonesia-Croatia
kelahiran Jakarta ini baru berusia
23
tahun. Tapi dia sudah menjadi dokter yang menggeluti terapi anti
aging, pemimpin di dua perusahaan, sekaligus aktifis organisasi
sosial.
Itulah
dr. Natasha Vinski yang biasa diapanggil dr. Vinski, adalah puteri
satu-satunya dari pasangan Sang Ratu Anti Aging Dunia, dr. Deby
Susanti Vinski dan Ivek Igor Vinski. Like
daughter like mother,
semua karakter ibundanya seakan mengalir pada sosoknya; cerdas,
ramah, berjiwa sosial dan juga filosofis. “Saya akan selalu menjadi
dokter, karena dengan menjadi dokter, saya bisa berkontribusi
langsung
bagi
kehidupan
banyak orang, membaktikan diri saya untuk menjadi berguna setiap
harinya,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Indonesia (UKI), Jakarta, itu, ketika saya Wawancarai di kantornya,
Vinski Tower, Jakarta, 4 Desember 2017.
Memimpin
Dua Perusahaan
Selain
berprofesi sebagai dokter yang berpraktek di Vinski Tower, Natasha
juga menjadi chief executive officer (CEO) Vinski Tower dan juga Aero
Queen Pte Ltd. Aero Queen merupakan perusahaan yang berbisnis jual
beli dan sewa helikopter serta
jet
pribadi untuk para pelaku bisnis atau perseorangan, yang berbasis di
Singapura. Sedangkan Vinski Tower, adalah klinik kesehatan dan
kecantikan yang berfokus pada anti aging, stem cell, dan estetika,
yang kantornya berdiri di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Natasha
mengakui, menjadi pimpinan di dua perusahaan yang jenis usahanya
sangat
berbeda, di dua negara pula, tentu tidaklah mudah, tapi juga bukan
berarti mustahil. Natasha membuktikan, umur muda juga bukan hambatan
bagi pengembangan bisnis. Nyatanya, Vinski Tower dan
Aero
Queen telah banyak berkembang lewat terobosan-terobosannya.
Natasha
melakukan banyak hal, mulai dari pengembangan Men’s Clinic di
Vinski Tower, hingga membuka layanan penyewaan private jet untuk Aero
Queen. “Dan saya tidak akan berhenti sampai di sini.
Ini baru awal saja. Ke depan, saya akan membuat beragam
terobosan untuk dua jenis usaha
ini,
hingga menjadi pemimpin di industri
masing-masing,”
ujar Natasha.
Rencana
yang sedang ia susun misalnya adalah memperluas pasar penyewaan
private jet, bukan hanya di kawasan Asia dan Eropa, melainkan juga
hingga
ke
Amerika
Serikat dan Kanada. Ia juga berencana mengembangkan Vinski Tower
dengan membuka dua Hotel Vinski di Bali. “Ke depan, saya juga
melihat peluang bisnis di China. Karena itu saya sedang berusaha
meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin,” tuturnya sambil
tersenyum. Perjalanan masih panjang memang, tapi Natasha percaya,
bersama timnya yang kuat, katanya, ia pasti bisa menggapai semuanya.
Selain
sibuk sebagai dokter dan CEO di dua perusahaan. Natasha juga aktif di
kegiatan sosial lewat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ia
dirikan
6 tahun lalu,
yakni
LoveHumanity
NCV. Salah satu motif Natasha mendirikan organisasi sosial ini adalah
keinginannya berkontribusi terhadap masyarakat, terutama anak-anak.
“Fokus
utama kami di LoveHumanity NCV adalah edukasi dan kesehatan. Saya
percaya, anak-anak adalah masa depan, dan kami ingin menyiapkan
mereka menjadi pimpinan bangsa dan mendapatkan hak yang sama,” kata
Natasha.
LoveHumanity
NCV aktif menyantuni anak-anak terlantar, membantu membangun
fasilitas umum di kampung-kampung kumuh, dan juga menyelenggarakan
pengobatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.
Natasha
bersama LoveHumanity NCV saat ini sedang merencanakan sebuah
pekerjaan besar yang akan digelar April 2018 mendatang. “Kami akan
menyelenggarakan bakti sosial di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur,”
ujar Natasha. Bakti sosial itu akan diisi dengan pemeriksaan
kesehatan dan pengobatan gratis bagi masyarakat di beberapa tempat di
pulau itu, serta pembuatan fasilitas tempat mandi, cuci dan kakus
umum.
Pulau
Rote memiliki arti tersendiri bagi Natasha.
Pulau Rote bukan hanya dikenal sebagai pulau paling
selatan
wilayah Indonesia, melainkan juga pulau asal-usul kakek moyang
Natasha. “Opah saya dari ibu berasal dari Pulau Rote dan masih ada
saudara-saudara opah yang tinggal di sana,” kata dr. Vinski.
Disiplin
dan Kerjasama
Untuk
ukuran anak muda yang masih senang gaul, Natasha memiliki kesibukan
yang memang luar biasa. Bagaimana cara gadis semampai ini membagi
waktunya antara
profesi
sebagai dokter, pengusaha dan penggiat sosial?
“Kuncinya
adalah disiplin dan kerja sama,” ujar Natasha. “Kita hanya punya
waktu 24 jam tiap harinya. Dan saya harus bisa meletakkan fokus saya
untuk mengatur bisnis di Jakarta dan Singapura. Tapi saya menerapkan
disiplin tinggi baik untuk diri saya sendiri, tim, maupun untuk
partner kerja di seluruh lini bisnis, sehingga dapat terjalin
kerjasama yang baik,” Natasha menjelaskan. Menurut dia, timnya
sangat solid, dan dia bersyukur lahir di dunia yang sudah serba cepat
dan mobile.
“Teknologi
memudahkan
kita bertukar
informasi dan menjalankan bisnis kapan pun dan di mana pun,”
katanya.
Natasha
mengaku sangat mencintai pekerjaannya. Darah pengusahanya mengalir
dari sang ayah, Ivek Igor Vinski sebagai perintis bisnis pesawat.
Sedangkan kecintaannya pada dunia medis diturunkan oleh sang ibu, dr.
Deby Vinski.
“Saya
sudah terjun di dunia usaha sejak SMA, sebagai orang kepercayaan Papa
semasih hidup. Saya adalah tangan kanan beliau. Setiap hari saya
dicemplungi urusan bisnis,” tutur Natasha. Dari situlah katanya ia
belajar dan menemukan kecintaannya terhadap bisnis.
Natasha
mengaku enjoy
saja dengan kesibukannya. “Di mana
pun
saya berada, saya berkomitmen untuk menjadi pribadi yang berguna.
Tiap hari saya ingin berbuat baik, sekecil apa pun,” ujarnya.
“Lewat bisnis, saya berkomitmen untuk membuka lapangan pekerjaan,
mengedukasi masyarakat di bidang kesehatan, serta menularkan semangat
kepada sesama kaum muda untuk menggapai cita-cita dan menjadi
sukses,” papar Natasha.
Dokter
Vinski
menamatkan
pendidikan kedokterannya di UKI pada 2016 sebagai lulusan terbaik.
Kemudian ia mengikuti berbagai seminar, kongres, simposium dan
sejenisnya di bidang kedokteran anti aging, di Jakarta, Singapura,
dan berbagai kota lain di Eropa. Selain terus memperdalam ilmunya di
bidang kedokteran, Natasha juga berencana menambah
ilmu bisnisnya dengan melanjutkan kuliah di Harvard University,
Amerika Serikat.
Berbagai
penghargaan telah diraihnya bahkan sejak remaja. Antara lain, Awards
for Excelling and Best Personality by Mindchamps pada 2011. Dokter
Vinski juga menerima penghargaan The Most Esteemed Outstanding
Personality Award dari Keraton Buleleng, Bali, September 2017 lalu,
dan gelar kebangsawanan dari Keraton Solo, Jawa Tengah. beliau
dianggap memiliki kepedulian besar dalam budaya, kemanusiaan,
kesejahteraan sosial dan pariwisata.
Sebagai
anak muda, perjalanan dr. Vinski tentu masih panjang. Cita-cita dan
harapannya masih terbentang luas. “Saya tentu saja bercita-cita
ingin memperbesar bisnis saya,
dan mampu berkontribusi lebih banyak lagi bagi dunia.
Saya ingin terus berbuat baik bagi sesama. Kita
tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kita miliki di dunia. Jadi
saya ingin terus bekerja, terus menghasilkan karya, dan terus menjadi
pribadi yang lebih baik lagi,” tegasnya. Idealis,
dan filosofis. ***
Endang Sukendar
G 21-27 Desember 2018

Komentar
Posting Komentar